Thursday, October 7, 2010

PA PRIBADI (20)

1 Timotius 4:13-16                  Epistel Minggu 10 Oktober 2010

JADILAH GEMBALA YANG BAIK
(Yoh 10:11, 14; Ef 4:11)

13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

13 bertekunlah = devote; 16 bertekunlah = persevere; 15 perhatikanlah = be diligent'; 15 hiduplah di dalamnya = give yourself wholly

13 Sementara itu, sampai saya datang nanti, engkau harus bersungguh-sungguh membacakan Alkitab kepada orang-orang, dan mendorong serta mengajar mereka. 14 Janganlah engkau lalai memakai karunia dari Roh Allah yang diberikan kepadamu pada waktu pemimpin-pemimpin jemaat meletakkan tangan mereka di atas kepalamu, dan nabi-nabi menyampaikan pesan Allah mengenai dirimu. 15 Kerjakanlah semuanya itu dengan bersungguh-sungguh supaya kemajuanmu dilihat oleh semua orang. 16 Awasilah dirimu dan awasilah juga pengajaranmu. Hendaklah engkau setia melakukan semuanya itu, sebab dengan demikian engkau akan menyelamatkan baik dirimu sendiri maupun orang-orang yang mendengarmu.

Tentang: penggembalaan

Jadilah Gembala yang Baik
(13-16)

Tokoh: Paulus, Timotius

Tempat/waktu: awal penugasan Timotius muda sebagai gembala Jemaat di Efesus; l.k. A.D. 64.

Proporsi: ketekunan dalam menjalankan karunia dalam penggembalaan jemaat

Bentuk sastra: surat nasihat/pribadi

Pokok bahasan: bagaimana menjadi gembala yang berhasil walau usia masih muda

Ringkasan isi:
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu dalam segala aspek penggembalaan jemaat, yang dipercayakan padamu, dengan penuh ketekunan (13-16):

  • Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, bertekunlah dalam membangun dan bertekunlah dalam mengajar (13)
  • Perhatikanlah semuanya itu dalam menjalankan karunia yang ada padamu, hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata bagi semua orang (14-15).
  • Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu; bertekunlah dalam semuanya itu (16).

Ayat kunci utama: 1 Tim 4:16
Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Pokok pikiran/tema utama:

Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan bagi semua orang.

Istilah penting: bertekunlah, membaca, membangun, mengajar, karunia (rohani)

Ciri khas: --

Hubungan struktural utama: generalisasi—Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar (13). Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu (14). Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya, kemajuanmu nyata bagi  semua orang (15).  Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (16).

Ayat paralel:
ay 14: 1 Tim 1:18  Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.

Ayat Konteks:
Konteks dekat:
1 Tim 4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. --- teladan . . . Tit 2:7  dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu; --- kesetiaanmu . . . 1 Tim 1:14  Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

ay 13 sampai aku datang . . . 1 Tim 3:14  Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau.
membaca . . . 2 Tim 3:15ff  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. 16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Yoh 10:11, 14  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. 14 Akulah gembala yang baik. Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, begitu juga Aku mengenal domba-domba-Ku dan mereka pun mengenal Aku. Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk mereka.

Ef 4:11 Ialah yang "memberi pemberian-pemberian kepada manusia"; sebagian diangkat-Nya menjadi rasul, yang lain menjadi nabi; yang lain lagi menjadi pemberita Kabar Baik itu, dan yang lain pula diangkat-Nya menjadi guru-guru dan pemelihara jemaat.

Gifts, Spiritual
Listed and explained … Rom 12:6-8   Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita;

1 Kor 12:4-30   Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 5  Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10  Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. 11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. 12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. 13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. 15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? 18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? 20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. 21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. 23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. 24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, 25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. 27  Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. 29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Perseverance—steadfastness, persistence
Elements involved in:
Spiritual growth … Ef 4:15  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Fruitfulness … Yoh 15:4-8  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."

God’s armor … Ef 6:11-18  Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Discipline … Ibr 12:5-13   Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." 7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? 8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. 9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? 10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. 11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. 12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 12  dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Assurance … 2 Tim 1:12  Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Salvation … Mat 10:22  Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Reward … Gal 6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Penyataan Kristus:

PENAFSIRAN
Hal-hal utama
:
a. Istilah utama: bertekunlah
b. Hubungan utama: generalisasi—Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar (13). Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu (14). Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya (15).  Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu (16).
      -- Aspek utama: mempergunakan karunia
c. Tema utama/pokok pikiran utama:
Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan dalam segala hal.

Tanya jawab penafsiran:
Definisi
1) Apakah yang dimaksud dengan bertekun?
     -- dengan penuh perhatian mengerjakan sesuatu
     -- teguh berpegang kepada kebenaran dalam kasih Kristus (Ef 4:15)
     -- tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak (Yoh 15:5)
     -- dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (Ef 6:11-18)
     -- tidak putus asa jika harus menanggung ganjaran; (Ibr 12:5-7)
     -- orang yang bertahan dalam nama Yesus sampai pada kesudahannya akan selamat (Mat 10:22)
     -- tidak jemu-jemu berbuat baik, akan menuai (Gal 6:9)

2) Apakah yang dimaksud dengan karunia dan mempergunakan karunia? 
     -- kemampuan atau kuasa berbuat sesuatu yang baik bagi orang lain
     -- karunia adalah yang dianugerahkan Allah menurut kasih karunia-Nya bagi masing-masing orang percaya (Rom 12:6-8)
     -- karunia bernubuat, melayani, mengajar, menasehati 
     -- membagi-bagikan sesuatu dengan hati yang ikhlas; memberi pimpinan dengan rajin; menunjukkan kemurahan dengan sukacita;
     -- Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama: menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh. berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh itu. (1 Kor 12:7, 10)

Alasan
3)Kenapa harus bertekun? 
     -- supaya berhasil baik, mencapai sasaran atau tujuan
     -- 

4) Kenapa perlu atau harus mempergunakan karunia?
     -- karunia adalah anugerah khusus dari Allah untuk kepentingan bersama
     -- tidak seharusnya diabaikan atau dilalaikan

Cara
5) Bagaimana bisa bertekun?
     -- minta tuntunan Roh Kudus
     -- fokus pada hasil akhir
6) Bagaimana mempergunakan karunia?
     -- dengan penuh percaya diri akan tuntunan Roh Kudus
     -- dengan ketekunan penuh
     -- bukan untuk kepentingan atau demi nama baik pribadi
     -- dengan rendah hati, taat azas

Implikasi
7) Apa yang tersirat dari kewajiban bertekun dalam menjalankan sesuatu tugas terkait penggembalaan? 
     -- menjadi gembala yang baik
     -- memperhatikan dengan benar kebutuhan rohani dan diakoni setiap dombanya
     -- setiap anggota jemaat pun wajib tekun membaca firman sendiri-sendiri maupun di hadapan “jemaatnya” serumah tangga, abang beradik saudara kandung maupu lingkungan lebih luas

8) Apa yang tersirat dari kehaharusan mempergunakan karunia dalam menjalankan tugas penggembalaan?
     -- setiap anggota jemaat juga mempunyai karunia masing-masing yang Roh anugerahkan padanya, setiap kali ada kesempatan terbuka, di manapun itu terjadi, demi kepentingan bersama.      -- 

Kesimpulan:
1. Setiap pemimpin jemaat ataupun gereja wajib memelihara ketekunan dalam setiap aspek penggembalaannya, apakah itu membaca firman, membangun, mengajar, atau apa sajapun itu.
2. Ia tak boleh lalai mempergunakan karunianya, karena Tuhanlah yang menganugerahkan kepadanya, demi kesatuan gereja-Nya.
3. Setiap orang percaya pada hakekatnya adalah juga pemimpin jemaat atau gembala di lingkungan masing-masing, mulai dari rumah tangga sampai lingkungan lebih luas, termasuk pemimpin sipil dan militer dari yang terendah sampai tertinggi.
4. Semuanya itu dilakukan demi kepentingan bersama; nasihat Paulus kepada Timotiu juga berlaku sama bagi para pemimpin tersebut.

Pesan:
Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan bagi semua orang.

PENERAPAN
Evaluasi
: Nasihat Paulus kepada Timotius juga berlaku bagi setiap pemimpin lain.

Butir-butir penerapan:
1. Tekun membaca dan merenungkan firman setiap hari dan langsung mengadaptasi dalam hidup sehari-hari dengan tuntunan Roh Kudus.
2. Mempergunakan karunia yang Tuhan anugerahkan demi melayani sesama, kapan saja, di mana saja dengan sepenuh hati.

Tekad/Tujuan
Setiap kali minta tuntunan Roh Kudus dalam setiap hal pelayanan dan penggembalaan.

Ayat hapalan:

1 Timotius 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”

DISKUSI PA

1. Menjelang kunjungannya ke Efesus, Paulus menulis surat kepada Timotius muda, anak asuh kesayangannya, teman sekerjanya, yang diberi tugas mempimpin jemaat Efesus, yang Paulus baru dirikan, yang sedang disusupi pengajaran sesat, sejumlah nasihat penting bagi seorang gembala jemaat, demi menjaga wibawanya dan menjaga kepercayaan dari jemaatnya, terlebih karena ia masih muda. a) Pada intinya apakah isi nasihatnya tersebut? b) Bagaimana ia harus melaksanakan atau mencapainya menurut Paulus? c) Dengan demikian apakah yang bakal diperolehnya dari jemaatnya (perhatikan usianya yang masih muda)?

2. Bagaimanakah menjalankan ketekunan seperti yang Paulus maksudkan tersebut dalam hidup seseorang percaya, baik sebagai pemimpin jemaat atau gereja ataupun di lingkungan lain termasuk rumah tangganya? Baca: Ef 4:15, Yoh 15:5, Ef 6:11-18, Ibr 12:5-7, Mat 10:22, Gal 6:9.

3. Nasihat Paulus supaya tidak lalai mempergunakan karunia yang ada padanya bukan saja ditujukan bagi Timotius, tetapi juga berlaku bagi setiap pemimpin, gembala, dan pelayan atau penatua dalam gereja Tuhan, di manapun, kapanpun. Bahkan juga setiap orang percaya, yang sedikit banyaknya juga telah menerima anugerah karunia dari Tuhan, yang ia juga tidak boleh lalai mempergunakannya, karena pada saatnya ia juga bisa atau akan menjadi pemimpin “jemaat” atau serupa itu di lingkungannya di tengah rumah tangganya, keluarga besarnya dan lain-lain, bahkan menjadi pemimpin sipil maupun militer negara. a) Apakah yang dimaksud dengan karunia dan mempergunakan karunia? b)Kenapa ia tidak boleh lalai? c) Bagaimana ia harus melaksanakannya? Baca: Rom 12:6-8, 1 Kor 12:7, 10)

IMS 101005

Friday, September 24, 2010

IV. CARA MENELAAH ALKITAB--PA Pribadi (4)

C. Penerapan

Penerapan adalah menerima secara pribadi kebenaran yang baru dipelajari dan melakukannya. Penerapan adalah melaksanakan dalam praktek apa yang telah kita ketahui 
“Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mar 4:24);
“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” (Ibr 5:14)
dan menjawab pertanyaan, “Lalu apa?” dengan menantang kita dengan pertanyaan-pertanyaan tepat dan memotivasi kita mengambil tindakan,
“Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:5, 6);
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17).
Penerapannya adalah sepenuhnya pribadi--unik bagi setiap pribadi. Adalah membuat kebenaran relevan menjadi kebenaran pribadi, dan melibatkan pengembangan strategi dan rencana tindakan menjalani hidup anda selaras dengan Alkitab, suatu penuntun tentang “bagaimana melakukan” yang alkitabiah dari hidup. Menanggapi pesan dari apa yang tertulis pada halaman-halaman Alkitab sedemikian rupa, sehingga beban hati Allah dapat dialami sendiri dan menularkannya pada orang lain.

Renungkanlah bagian itu dalam doa sampai Roh Kudus menunjukkan anda cara menerapkan kebenarannya kepada hidup anda sendiri dalam cara pribadi, praktis, mungkin, dan dapat diukur. Alkitab diberikan kepada kita untuk menunjukkan bagaimana kita harus menjalani hidup mengikuti jalan-Nya di dunia ini. Untuk mengubah hidup kita menjadi serupa hidup Yesus Kristus.

Tujuan PA yang baik adalah mengubah manusia dengan kuasa Firman dan Roh Allah. Ini menjawab pertanyaan dasar kedua, ”Apa, jika ada, urusannya atau kaitannya dengan kita dan dunia kita?” Menemukan apa arti sesuatu nas (penafsiran) dan menjalankannya dalam hidup (penerapan) adalah dua proses berbeda, walaupun berhubungan, yang harus mendapat perhatian cukup yang sama dan seimbang.
Harus diingat bahwa berbagai cuplikan nas dalam Alkitab berlaku dalam jaman sekarang dalam berbagai cara, tidak dapat diterapkan begitu saja tanpa pemikiran lebih lanjut. Maka evaluasi bagaimana nas tertentu dihubungkan dengan lingkungan kita yang paling sedikit terpaut 20 abad dari budaya dan penulisan aslinya.

Berikut ini beberapa penuntun evaluasi:

1. Jaga ceriteranya lurus seadanya. Allah mengajar umat-Nya langkah demi langkah sesuai kemampuannya memahami kebenaran-Nya. Maka ingat nas yang ditelaah (terlebih dari Perjanjian Lama) belum tentu mengandung kata akhir Allah tentang pokok pesan dalamnya, lihat adanya kemungkinan bahwa telah direvisi atau bahkan dibatalkan oleh penyataan yang datang kemudian. Untuk menjaga ceritera wahyu alkitabiah lurus seadanya tidaklah perlu menguasai semua secara terinci sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Mulailah mempelajari masa-masa utama sejarah alkitabih dan abad atau dekade masing-masing. Buat peta kronologi dan catat kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh penting. Beri perhatian khusus korelasi tulisan para nabi dan rasul dengan setting dalam tulisan bersejarah dari Testamen (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru); penting dalam hal ini kitab Raja-raja dan Kisah Rasul. Misalnya tempatkan Amos dalam dekade akhir kerajaan Utara dan 1 Korintus dalam terang setting yang terdapat dalam Kisah 18.

2. Pisah yang lokal dari yang universal. Pisah yang mempunyai arti lokal yang terbatas pentingnya dalam sejarah dari yang mempunyai arti universal dengan menyelami dibawah permukaan kepada prinsip yang dinyatakan dalam nas yang bersangkutan. Contoh prinsip-prinsip yang mendasar dalam iman alkitabiah, yang dari struktur nyata kitab yang bersangkutan dan penekanan pernyataan yang telah dinyatakan dengan jelas dari penulis yang bersangkutan, adalah perlakuan-perlakuan dari kehendak tertinggi Allah untuk kemanusiaan atau ketentuan hidup dalam Kerajaan Allah, a.l.: Matius 5-7, Roma 12-24, 1 Korintus 13, Efesus 4:1-16, Kolose 3:12ff, Filipi 2, dan lain-lain. Dalam mengevaluasi nas dan tafsirannya kita harus:

· pilih yang pribadi di atas yang mekanikal,
· pilih kebebasan di atas keabsahan (legalism),
· pilih iman di atas perbuatan,
· pilih kasih di atas segala lainnya.

Tolak tafsiran yang menyarankan kekudusan yang tak mengasihi, tolak ajaran yang membuat hidup dengan Allah lebih bersifat mekanikal daripada pribadi, dan lain-lain yang tidak mencerminkan kepedulian mendasar alkitabiah.

3. Biarkan Yesus menjadi hakim. Dalam menentukan apakah sesuatu tindakan atau sikap yang dianjurkan nas tertentu mau diterapkan atau tidak dalam hidup orang Kristen, evaluasi dengan standar hidup Yesus dan Firman. Prinsip ini didukung oleh dua hal.

Pertama, Yesus jelas menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dari semua pewahyuan; misalnya Ia secara berwibawa merevisi yang difirmankan melalui Musa (Markus 10:4 dst, Mat 5:21-48).
“Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu  Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mar 10:4-12) dst.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:21-24), dst. Mat 5:25-48.
Kedua, para rasul jelas menulis mengambil Yesus sebagai norma hidup dalam Kerajaan (misalnya Filipi 2)--bandingkan juga Maz. 139:21-22
“Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku” (Maz 139:21-22),
mengenai”membenci” dengan ajaran Yesus dan rasul dalam Matius 5 dan Roma 12. Mengenal perbaharuan yang difirmankan seperti contoh tersebut harus menjadi perhatian kita dalam memutuskan bagaimana menerapkan Firman dalam hidup kita. Biarkan Yesus menjadi hakim.

Hubungkan juga dengan ayat-ayat bandingan (rujukan) silang untuk ayat-ayat unit telaahan anda untuk menjelaskan lebih lanjut arti dari teks. Cari lebih dahulu dalam kitab yang sama, yaitu hubungan di dalam. Kemudian bandingkan dengan pernyataan dalam tulisan lain dari penulis yang sama, hubungan luar. Lalu dengan kitab lain dari Perjanjian yang sama, terakhir bandingkan rujukan dalam keseluruhan Alkitab. Gunakan Alkitab yang dilengkapi rujukan, atau konkordans, lihat kata-kata yang sama. Ayat-ayat rujukan atau bandingan tersebut bisa berupa ayat paralel, ilustratif, atau bertentangan (sepertinya ada kontradiksi, tetapi sebenarnya pendekatan dari sudut pandang lain). Tetapi ingat memeriksa dulu konteks dari ayat bandingan yang bersangkutan, supaya jangan keliru menafsir.

Terapkan terlebih dahulu prinsip-prinsip. Kenali prinsip-prinsip umum dan maknanya bagi hidup sekarang, baru periksa detailnya apakah dapat diberlakukan atau tidak untuk hidup sekarang. Dengan cara ini akan dapat ditemukan mana yang bersifat universal dan transkultural, mana yang lebih berlaku lokal pada budaya, waktu dan tempat di zaman itu. Kalaupun misalnya cara-cara ibadah yang disinggung dalam Matius 6 berbeda pelaksanaannya di tempat lain dengan budaya dan kebiasaan berbeda, namun prinsip umum yang diajarkan berlaku, yaitu bahwa ibadah kepada Allah dengan cara bagaimana pun harus dilakukan dengan tulus kepada Allah sendiri tanpa maksud untuk mengesankan orang atau Allah. Hanya ibadah sedemikian yang akan menerima upah.

Penerapannya hendaklah spesifik dan konkrit. Pemberlakuan prinsip umum tersebut dalam hidup kita haruslah diterapkan secara terinci sesuai budaya dan situasi kondisi setempat secara spesifik dan konkrit bersifat pribadi. Jika bingung mengetahui bagaimana mulai membawa kebenaran dari nas kepada keadaan sekarang, coba mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Dosa apa yang harus saya akui sehubungan dengan nas ini?
2. Penegasan apa yang harus saya berikan dalam terang Firman ini--penegasan tentang Allah, Kristus, diri saya, orang lain, dunia ini? Adakah perintah untuk ditaati? Adakah janji yang dapat dituntut? Adakah teladan untuk diikuti? Adakah alasan untuk mengucap syukur atau memuji Tuhan?
3. Bagaimana nas ini menegaskan sesuatu yang baik yang telah ada karena anugerah Allah dalam hidup saya?
4. Perubahan apa yang harus saya lakukan dalam investasi saya mengenai waktu, uang, energi, atau sumber daya pribadi sehubungan dengan kebenaran nas ini?
5. Doa apa yang harus saya doakan bagi saya atau keluarga saya atau teman saya atau musuh saya dalam terang apa yang saya lihat dalam Firman?

Bawakan dalam doa dan renungan.

Kalau Yesus benar-benar Tuhan kita maka tidak ada segi kehidupan kita yang luput dari penerapan Firman-Nya. Tugas kita sebagai pengikut-Nya adalah menerapkan seluruh Firman-Nya pada seluruh hidup kita.

Meskipun ada macam-macam cara atau metoda PA, namun ingatlah: di mata Tuhan bukan caranya yang penting tetapi orangnya. Cara yang baik dapat membantu seorang mengerti Alkitab. Tetapi hanya kalau ia datang dengan hati terbuka dan bersedia dipimpin oleh Roh Kudus. Seperti kata Martin Luther: ”Kita tidak dapat mengerti Alkitab hanya dengan kepandaian otak saja. Tugas pertama adalah berdoa. Mintalah pada Tuhan supaya dari kasih-Nya yang besar anda diberikan pengertian yang benar. Tidak ada yang dapat menguraikan Firman Allah lebih baik daripada Pengarangnya Sendiri”.
IMS 100924

Thursday, September 23, 2010

IV. CARA MENELAAH ALKITAB--PA Pribadi (3)

B. Penafsiran

Setelah menemukan hubungan struktural pada tahap pengamatan tersebut di atas, selidiki lebih lajut hubungan struktural yang ditemukan. Periksa dengan pertanyaan-pertanyaan yang terfokus pada strukturnya sendiri dan pada materi tertentu seperti disusun oleh penulis. Kenapa disusun demikian, apa maksudnya, dan lain-lain. Matius 5, misalnya, dibangun dengan struktur partikularisasi, dimulai dengan pernyataan umum Yesus (5:17-20) diikuti dengan enam pernyataan spesifik (5:21-48).
Apa sebenarnya arti pernyataan umum tentang penggenapan hukum Taurat
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)
dan kebenaran hidup keagamaan melebihi ahli Taurat dan Farisi?
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).
Apa arti dari partikularisasi yang bersangkutan¾marah terhadap saudara dan mengatakan “Kafir!” atau “Jahil!”
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:22),
memandang dengan penuh gairah
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28),
perceraian dan perzinahan
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah” (Mat 5:32),
sama sekali tidak bersumpah
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah” (Mat 5:34),
tidak melawan kejahatan,
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39).
dan mengasihi musuhmu
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44)?
Apa yang Yesus dan Matius maksudkan sebenarnya dengan setiap ini? Kenapa pernyataan umum ini jadi fokus utama pertama setelah pengantar ke amanat ini seperti dicatat oleh Matius? Kenapa ini dijelaskan terperinci dengan contoh-contoh tersebut? Bagaimana setiap paragraf lebih spesifik tersebut memberi arti pada konsep penggenapan hukum dan hidup keagamaan benar melebihi ahli Taurat dan Farisi? Apa implikasi dari semuanya ini?

Hubungan struktural menunjukkan bagaimana penulis menyusun bahan tulisannya, jadi, menunjukkan jalan pikirannya. Dengan menganalisa ini (tanya-jawab) kita tau apa arti atau apa yang penulis maksud mau katakan kepada pembaca semula.

Cari pengertian yang terimplikasi atau tersirat dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan dan terus ajukan pertanyaan dengan sikap kritis.

Bedakan fakta-fakta langsung dari tidak langsung. Perlu kemampuan membaca yang lebih tinggi untuk melihat pernyataan yang tidak langsung. Membayangkan hal-hal dibalik fakta-fakta yang ada sangatlah perlu. Fakta-fakta itu memang sudah cukup jelas dipermukaan (pengamatan awal), akan tetapi diperlukan pemikiran yang mendalam dan imajinatif untuk melihat kebenaran tak langsung, yang tersembunyi dibawah permukaan. Proyeksikan diri kita ke dalam situasi yang digambarkan di dalam teks agar imajinasi kita menjadi aktif untuk membayangkan realitanya lebih dalam.

Pada tahap ini kita berupaya untuk memahami apa yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca pada zamannya. Sasaran penafsiran adalah memperoleh inti berita dari perikop itu. Apakah tema utama perikop ini? Semua tulisan yang baik akan berisi suatu fokus penekanan. Tetaplah berdoa. Roh Kudus pasti menolong kita untuk mengerti dan menemukan kebenaran yang baru.

Analisalah kata-kata dan kalimat-kalimat kunci. Lihat juga perikop yang paralel sebagai pelengkap fakta dan penjelasan. Amati konteks luasnya. Apa yang terjadi sebelum dan sesudah teks yang akan mempengaruhi penafsiran berdasarkan pengamatan yang kita lakukan. Evaluasi dan hubungkan kembali fakta-faktanya. Bandingkan dengan buku-buku tafsiran yang baik jika ditemui hal-hal yang sulit. Tetapi lakukan ini setelah anda melakukan penyelidikan sendiri semaksimalnya.

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menemukan jawabannya adalah jembatan yang menghubungkan apa yang penulis katakan (pengamatan) dan pemahaman apa yang dimaksudnya (penafsiran). Kuasai pertanyaan-pertanyaan standar: “Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Kenapa? Bagaimana?”

Pelajari kumpulan atau perangkat tipe pertanyaan yang perlu ditanyakan (lihat halaman 4 Bab I dan halaman 8 Bab III). Ajukan pada setiap hal penting atau utama yang diamati dalam teks. Beri perhatian pada jenis informasi yang anda mau cari melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan standar paling penting di antaranya adalah yang berikut:
a. Pertanyaan untuk memperoleh definisi: Siapa atau apa ini? Apa arti atau pentingnya ini?
b. Pertanyaan untuk mengetahui alasan: Kenapa ini demikian? Apa maksudnya?
c. Pertanyaan untuk memahami cara: Bagaimana ini dilakukan?
d. Pertanyaan untuk menyelidiki implikasi dan asumsi: Apa yang dimaksudkan dengan ini? Apa yang diasumsi (dimisalkannya)?
e. Pertanyaan lain tentang tempat, dan waktu, dan lainnya jika beralasan.

Tulis pertanyaan-pertanyaan tersebut (dalam daftar lembaran catatan dimaksud di atas) untuk rujukan. Sesuaikan (tulis ulang) pertanyaan standar di atas dengan hal spesifik yang ditelaah. Catat sebanyak mungkin pertanyaan dari sebanyak mungkin sudut pandang (pertama pembaca, kemudian masing-masing tokoh atau kumpulan orang-orang yang terlibat, termasuk Allah, Kristus, dan Roh Kudus) mengenai unit nas telaahan. Dengan menanyakan saja, sudah mempertajam persepsi anda tentang dalamnya dan lebarnya nas telaahan. Jawabannya akan memberi anda pemahaman.

Tangani hal-hal mayor lebih dahulu, rinciannya hanya bila terkait dengan keseluruhannya. Umumnya ini berarti memfokuskan pertanyaan terlebih dahulu pada materi yang sudah tampak dari pengamatan terdahulu sebagaimana tersusun atau terstruktur oleh penulisnya menjadi satu kesatuan yang utuh, yang memberi sumbangan menyeluruh pada makna unit dan penekanan penulisnya sendiri.

Jadi, berarti terlebih dahulu memfokuskan pertanyaan pada struktur. Selidikilah temuan ini memakai “alat kerja” pertanyaan standar. Lalu cari jawabannya semampunya. Ajukan pertanyaan mengenai definisi, sekitar aspek (segi, sisi) utama dari hubungan utama, serta definisi istilah-istilah utama. Dengan dituntun oleh struktur ajukan pertanyaan mengenai alasan, alasan penulis seputar aspek utama hubungan utama, serta penempatannya dalam unit telaahan. Lalu ajukan pertanyaan untuk implikasi, implikasi menyangkut aspek utama. Selesai ini lanjutkan dengan pertanyaan menyangkut tempat, waktu, dan lainnya. Perhatikan urutannya (namun jangan kaku): pertama definisi (siapa, apa), kemudian alasan (kenapa), cara (bagaimana), implikasi (apa), dan pertanyaan-pertanyaan lain (kapan, di mana, dst). Mulailah dengan definisi, pertanyan siapa dan apa.

Temukan jawaban-jawaban:

1. Dalam konteks. Pertanyaan mengenai geografi, sejarah, dan budaya, dan definisi dapat diperoleh dari kamus, peta, dan ensiklopedi Alkitab, tetapi hanya setelah tidak menemukannya dalam konteks. Banyak pertanyaan penting dapat dijawab dengan memuaskan dari konteks dekat, atau konteks lebih luas dari keseluruhan kitab atau nas terkait dalam kitab lainnya. Pakai konkordans untuk menemukan ayat-ayat rujukan atau bandingan silang dan paralel, yang menjadi konteks perikop.

2. Dalam istilah-istilah utama. Hampir selalu pertanyaan definisi akan melibatkan pengenalan dan pemahaman istilah-istilah utama dari unit. Dapat ditemukan dalam kamus dan ensiklopedi Alkitab, dan dalam konkordansi. Tetapi banyak pula arti istilah yang lebih baik diperoleh dari penggunaannya seperti dapat ditemukan dimana-mana dalam Alkitab (metoda penelaahan kata). Periksa istilah Yunani dan Ibrani untuk memastikan bahwa anda menelaah kata tunggal bukan kata-kata berbeda yang diterjemahkan dengan satu kata yang sama. Lihat dalam konkordans.

Periksa-uji jawaban-jawaban anda:

1. Bentuk dan arti kata. Jawaban yang layak harus sesuai dengan bentuk dan arti yang diamati (berdasar etimologi dan terutama pemakaiannya) dari kata atau ekspresi dalam konteksnya. Misalnya arti dan penggunaan kata “diselamatkan” dalam Efesus 2:8
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Eph 2:8),
(sekarang sudah selamat, present tense) dibandingkan dengan 1 Korintus 1:18
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18)
(proses keselamatan) dan Roma 8:18-25
“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8:18-25)
(penggenapan karya penyelamatan Allah yang akan datang), bahwa dalam Efesus Paulus menyatakan bahwa keselamatan itu sudah terlaksana sekarang karena kasih karunia semata; penggunaannya dalam konteks Efesus 2 di sini juga konsisten dengan di tempat lain.

2. Konteks. Penafsiran suatu teks harus sesuai dengan alur pemikiran dalam konteks. Perhatikan 1 Korintus 2:9,
“Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor 2:9)
sebagaimana dapat diikuti dari alur pikiran dalam konteksnya, yaitu ayat 1-5, 6-7, 8, 10, dan 2:11-3:4,
“Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.  Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1Kor 2:1-5),
“Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan  Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1Kor 2:6-7).
“Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1Kor 2:8),
“Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1Kor 2:10),
“Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.  Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:11-16),
“Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?  Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?” (1Kor 2:11-3:4)
jelas bahwa pengutipan Yesaya 64:4
“Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian” (Yes 64:4).
dalam hal ini oleh Paulus bukan hendak bicara tentang apa yang tidak kita ketahui, tetapi sebaliknya menegaskan apa yang kita ketahui, yaitu seperti diberitahukan oleh Roh Kudus; jika dari kita sendiri tanpa pertolongan Roh Kudus tak akan mampu menangkap hikmat Allah.

3. Maksud penulis. Makna suatu nas harus sesuai dengan maksud penulis, sejauh dapat ditentukan. Dalam 1 Yohanes 3:16-17
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh 3:16-17)
Yohanes mengajarkan kasih di antara sesama orang percaya. Tetapi jika dalam menafsir membatasinya hanya di antara sesama masyarakat Kristen saja akan sangat keliru, tidak sesuai dengan roh tulisan Yohanes lainnya dalam kitab yang sama, 
“Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh 2:2).
dan
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:10, 19).
Bahkan pada awal tulisannya dalam ayat 2:1
“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1Yoh 2:1).
dinyatakan supaya jangan berbuat dosa.

4. Lingkungan sejarah. Lingkungan budaya para penulis berbeda nyata dari kita. Arti suatu nas harus cocok dengan lingkungan sejarahnya.

5. Kearifan rohaniah. Kemampuan untuk membedakan kebenaran dalam penafsiran, yang melampaui data dan bukti tentang intuisi yang lahir dari Roh Allah.

6. Akal sehat. Berpegang pada arti jelas suatu teks dan menolak arti tersembunyi atau tersamar. Perkataan Yesus tentang “biji sesawi” dalam
“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi” (Mar 4:31)
jangan ditafsirkan terlalu jauh secara teknis berlebihan berdasarkan ilmu biologi atau botani misalnya; hasilnya akan ngawur keterlaluan.
7. Pengalaman. Harus serasi dengan hidup seperti yang kita alami. Pernyataan Yesus dalam 
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 5:7)
jangan ditafsirkan sebagai janji tanpa syarat bagi jawaban positif atas doa. Dari pengalaman Yohanes sendiri dan para rasul dan tokoh-tokoh gereja dapat ditarik kesimpulan bahwa syaratnya adalah implisit.
IMS 100913

IV. CARA MENELAAH ALKITAB--PA Pribadi (2)

A. Pengamatan

Untuk menjawab pertanyaan dasar pertama, “Apa sebenarnya yang penulis ingin katakan kepada pembaca semula?” periksalah dengan cermat apa yang ia tulis. Maka langkah pertama PA adalah pengamatan. Ada dua hal yang harus dilihat. Pertama lihat apa yang ada di sana (apa yang dikatakannya), ini masalah isi. Tentang apakah sebenarnya kitab atau segmen (penggalan) yang ditelaah: tentang dosakah atau anugerah, doakah atau iman, Abrahamkah atau Daud, atau tentang penciptaankah atau kedatangan kedua kali? Hal isi mengamati apa yang dikatakan. Kedua, lihat bagaimana apa yang ada tersebut ada di sana (bagaimana ia mengatakannya); ini masalah struktur, rancang bangun komposisi bagaimana unsur-unsurnya tersusun dan terkait satu sama lain. Jadi, mulailah melihat apa ada di sana dan bagaimana tersusun.

Telaahlah selalu dalam satuan-satuan (unit) sebagai satu kesatuan utuh menyeluruh; anda akan mulai melihat melalui mata si penulis, yang juga menulisnya dalam urutan satuan-satuan kecil. Setiap bagian harus dipahami dalam terang keseluruhan--misalnya satu kitab lengkap atau satu penggalan (segmen) kitab yang mau ditelaah. Karena satu pasal tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan pasal lain dalam kitab yang sama. Arahkan melihat kitab sebagai suatu keseluruhan seutuhnya. Paling jauh lihat pasal-pasal sebagai kumpulan paragraf-paragraf yang berkaitan, yang pokok-pokok utamanya selengkapnya membentuk satu pengertian cerdas. Beri perhatian pada ayat-ayat tersendiri hanya sebagaimana anda melihatnya dalam terang paragraf dan pasal yang bersangkutan. Dengan perkataan lain telaahlah selalu dalam konteks. (gunakanlah Alkitab yang dicetak dalam satuan paragraf dari pada dalam satuan ayat berdiri sendiri, misalnya Alkitab Terjemahan Baru (TB) @ 1974 terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta).

Membaca dalam satuan-satuan dilakukan dengan dua “lensa telaah” yang berbeda secara berurutan. Mula-mula memakai lensa “sudut lebar” untuk mendapatkan gambaran besarnya. Kemudian lensa “tilik dekat” untuk memeriksa secermatnya bagian-bagian yang membentuk gambaran besar tadi. Terakhir kembali dengan lensa “sudut lebar” untuk melihat unit sebagai suatu panorama, sekarang dengan pemahaman lebih dalam setelah pemeriksaan terinci bagian-bagiannya.

1. Periksa apa yang ada disana: isi--memakai lensa sudut lebar. Lakukan hal-hal berikut untuk melihat apa yang sebenarnya ada dalam unit yang ditelaah:

1. Survei atau tinjau unit atau perikop yang mau ditelaah. Baca sekali gus dengan cepat dalam sekali baca kitab atau seperangkat pasal yang mau ditelaah tersebut untuk mendapat suatu ringkasan gambaran umum. Baca perikop secara ini beberapa kali untuk mengamati para pelaku, tempat, dan tema penting yang bermakna menyeluruh. Catat (pena & kertas!) untuk penelaahan lebih lanjut.

2. Beri judul setiap pasal/paragraf. Pada salah satu pembacaan survei di atas beri judul setiap pasal, juga setiap paragraf jika kitabnya lima-enam pasal atau kurang. Gunakan imaginasi, judul singkat, cukup 1 – 5 kata yang padat informasi. Buat yang mudah diingat. Judul-judul tersebut menjadi pegangan atas keseluruhan kitab atau segmen.

3. Catat proporsi dan rasakan suasana. Catat berapa banyak ruang diberikan kepada setiap unsur utama dalam unit, dan perubahan suasana emosional kalau ada.

4. Amati bentuk sastera. Apakah bentuk prosa atau puisi. Apakah narasi sejarah atau biografi atau kejadian, hukum, nubuat, kidung, doa, pepatah, perumpamaan, surat atau essai.

5. Buat gambaran unit. Berupa daftar (lihat contoh hal. 36-37) yang memuat judul-judul pasal/paragraf yang bersangkutan; informasi lain hasil pengamatan: waktu, tempat, pelaku utama, dan lainnya, yang ditempatkan di bawah masing-masing judul.

Demikian melihat apa yang ada di sana dan melakukannya dalam satuan-satuan. Perlu disadari bahwa kita bukanlah pengamat yang sebaik yang kita anggap. Kadang kala kita sudah melihat tetapi tidak tahu apa yang sesungguhnya telah kita lihat. Itu sebabnya betapa pentingnya untuk melihat dan terus melihat sampai akhirnya kita mencatat semua detailnya. Berikutnya adalah pengamatan lanjutan, melihat struktur.


2. Periksa rancang bangun: hubungan--memakai lensa tilik dekat. Bagaimana penulis merancang bangun sesuatu unit alkitabiah mulai, berlanjut dan berakhir, bagaimana ia mengembangkan tema, mengajukan pertanyaan dan jawaban, menyajikan sebab, akibat, puncak, penentangan, dan pembandingan, adalah pilihan terilham penulis yang muncul dari tujuan penulisan masing-masing (menurut hukum-hukum komposisi (karangan) yang biasanya digunakan oleh para penulis yang baik; bukanlah ada secara kebetulan). Menemukan rancang bangun tersebut (struktur sastra) menjadi tugas si pembaca/penelaah, yang akan semakin berpikir mengikuti alur pikiran si penulis.

Bahwa para penulis Alkitab membangun tulisan mereka dengan rancang bangun yang timbul dari tujuan masing-masing adalah jelas dalam penyajian penulis Injil tentang Yesus. Ke empat penginjil memulai ceritanya dengan empat cara berbeda: Matius dengan silsilah dan narasi masa menjadi bayi melalui mata Yusuf, Markus dengan pelayanan Yohanes dan pembaptisan Yesus (tanpa merujuk kelahiran masing-masing), Lukas dengan kelahiran Yohanes dan Yesus dan masa remaja Yesus, dan Yohanes dengan prolog mengenalkan Yesus sebagai Firman menjadi daging. Yohanes jelas mengatakan ia memilih (dan agaknya juga menyusun) bahan-bahannya berdasarkan tujuan keseluruhan
“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”  (Yoh. 20:30-31).
Perbedaan-perbedaan ini adalah semata-mata pilihan terilham, bukan kebetulan.
Maka ikuti saran dibawah ini:

1. Pelajari dan kenalilah hubungan struktural dasar. Mulailah belajar kenal bagaimana para penulis terlatih menggunakan alat-alat standar komposisi (hubungan dasar) berikut ini dalam membangun berbagai bagian komposisinya.

a. Hubungan sebab-akibat. Dalam Yoh. 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).
kasih Allah adalah sebab; mengutus Anak adalah akibat. Dalam konteks sama percaya dan tidak percaya adalah sebab yang bertentangan, masing-masing dengan akibat sendiri. Kadang-kadang akibat mendahului, diikuti oleh sebab atau akibat-sebab seperti Rom. 1:16
“aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil (akibat), karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (sebab) (Rom. 1:16)
Yang satu merupakan konsekwensi dari yang lain; kata petunjuk: karena, sebab, sehingga, maka.

b. Puncak. Pemaparan secara progresif, suatu urutan kejadian atau ide bergerak dalam penguatan perasaan menuju suatu puncak, memberikan proporsi ruang yang lebih besar pada orang-orang atau gagasan-gagasan kunci; menggunakan kata-kata seperti: apalagi, pandanglah, perhatikanlah, sesungguhnya, aku berkata kepadamu. Demikian kitab Hosea mulai dengan persamaan utama yang menggambarkan kasih Allah dalam pernikahan Hosea (Hosea 1-3). Tetapi kemudian kembali dalam pasal 6 (Dilema Kasih Allah) dan pasal 11 (Sejarah Kasih Allah) pokok bahasan kasih Yahweh muncul kembali, bergerak dengan semakin mendesak ke Undangan Kasih yang memuncak tak terduga dalam pasal penutup (Hosea 14). Kitab penghakiman ini dirancang untuk berakhir dalam puncak kasih ilahi.

c. Pembandingan. Membandingkannya dengan hal-hal atau cara-cara yang mirip; kata petunjuk: seperti, sebagaimana.
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Maz. 103:13),
rasa kasihan Tuhan kepada mereka yang takut pada-Nya diterangi dengan pembandingan pada sikap seorang ayah terhadap anak-anaknya¾itulah macam hati Allah.; Hos. 1-3, lihat di atas;
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami “ (Mat. 6:12),
pembandingan apa ada dalam doa “Bapa Kami”?

d. Penentangan. Mempertentangkan hal-hal yang tidak sama tetapi dalam satu kategori; kata petunjuk: tetapi, walaupun, namun,. sekalipun, biarpun, meskipun. Periksa dalam Yoh. 3:16; Rom. 6:23; Yunus 4.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal “ (Yoh. 3:16);
“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom. 6:23);
e. Titik balik. Suatu perubahan atau pembalikan arah di tengah tulisan. Kitab 2 Samuel dirancang demikian, dengan titik balik jelas ditempatkan dalam pasal 11. Lihat 11:27b.
“Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2Sam 11:27).
Sampai titik ini penulis memaparkan kejayaan Daud, dari titik itu kemundurannya, dan pada titik itu biang dari pembalikan¾ dosa Daud dengan Batsyeba dan sikap Allah terhadapnya.

f. Generalisasi/partikularisasi. Dari pernyataan spesifik ke uraian lebih umum mengenai pokok bahasan sama adalah generalisasi. Kebalikannya bergerak dari pernyataan umum ke yang lebih terbatas adalah partikularisasi. Demikian Mat. 5:17-48 dibangun dengan partikularisasi. Lihat juga Matius 6:1
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Mat 6:1).
g. Pendahuluan. Bagian yang menyiapkan jalan untuk penyajian bagian berikutnya, menjelaskan artinya pada bagian akhir. Demikian rangkaian dramatik pidato dalam kitab Ayub diantar oleh pasal 1 dan 2 yang menekankan kekayaan dan kesalehan Ayub dan asal usul penyakitnya dalam kebaikannya dari pada dalam sesuatu dosa.

h. Tanya-jawab (pemecahan masalah). Banyak nas alkitab dibangun dengan penyajian pertanyaan dengan jawabannya atau suatu masalah dengan pemecahannya. Demikian Kitab Keluaran dibangun secara ini. Masalah disajikan dalam pasal 1-5 yang pemecahan Allah atasnya adalah wabah penyakit, keluaran (exodus), perjanjian, dan tabernakel. Contoh lain Mark. 7 dan Mat. 24.

i. Pengulangan. Pengulangan kata, frasa, gagasan, tema, struktur, atau unsur lain, baik pengulangan yang sama atau sedikit diubah. Pengulangan digunakan untuk mengembangkan tekanan dan motif dalam suatu unit dan adalah satu dari alat paling banyak dipakai membangun bahan-bahan alkitabiah. Lihat Amos 1:3-2:8.
Perhatikan juga hal-hal berikut:

j. Ciri bentuk tata bahasa. Kecenderungan pikiran melalui tenses kata kerja, bentuk-bentuk pasif, aktif, tunggal, jamak, anak kalimat, dan sebagainya. Semua itu sangat mempengaruhi penafsiran.

k. Kata-kata yang menunjukkan peralihan pikiran, a.l.
· dan, maka, seperti, terlebih: menghubungkan atau memperluas dua atau lebih gagasan atau aksi yang sama.
· sementara itu, ketika, pada waktu itu: menunjukkan kejadian yang terjadi secara bersamaan.
· oleh sebab itu, oleh karena itu, maka: menunjukkan suatu hasil atau kesimpulan.
· jika .... maka: menunjukkan kondisi prasyarat dan hasilnya.

2. Temukan rancang bangun. Dengan pemahaman alat-alat sastra tersebut di atas baca lerbih lambat atau cermat nas perikop yang ditelaah dengan memperhatikan struktur dalam pikiran, baik unit besar maupun kecil. Hubungan ini mudah dilihat pada unit kecil seperti frasa dan anak kalimat. Cari sampai ketemu rancang bangunnya, sebelum maju ke tahap penafsiran.
IMS 100913

PA PRIBADI (19)

Ulangan 22:23-29                 Epistel Minggu 26 September 2010

HUKUMAN MATI BAGI PEZINAH DAN PEMERKOSA
Hukuman Setimpal Maksimal bagi Pelaku KDRT

Epistel Minggu 17 setelah TRINITATIS 26/09/2010
Evangelium Yoh 8:1-11 “Perempuan yang berzinah”
Tema: KDRT – ISUE JENDER

23 Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan--jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, 24 maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. 25 Tetapi jikalau di padang laki-laki itu bertemu dengan gadis yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu tidur dengan dia, maka hanyalah laki-laki yang tidur dengan gadis itu yang harus mati, 26 tetapi gadis itu janganlah kauapa-apakan. Gadis itu tidak ada dosanya yang sepadan dengan hukuman mati, sebab perkara ini sama dengan perkara seseorang yang menyerang sesamanya manusia dan membunuhnya. 27 Sebab laki-laki itu bertemu dengan dia di padang; walaupun gadis yang bertunangan itu berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.

28 Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan-- 29 maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.

Tentang: Dosa seksual

Hukuman Mati bagi Pezinah dan Pemerkosa 
(23-29)

Gadis Perawan Telah Bertunangan
(23-27)

Gadis Perawan Belum Bertunangan
(28-29)

Tokoh:
Musa

Musa
Tempat/waktu:
Pinggir Timur Sungai Yordan yang berhadapan dengan  Kamaan, 1407/6 SM

idem
Proporsi:
Persetubuhan sukarela dan paksa

persetubuhan paksa

Bentuk sastra:
narasi hukum dan peraturan


idem
Pokok bahasan:
Meniduri gadis perawan yang telah bertunangan

Meniduri gadis perawan yang belum bertunangan
Ringkasan isi: 
Hukuman atas persetubuhan di luar nikah, dalam hal si wanita sudah punya akad nikah (23-27)
1. Hukuman mati bagi ke dua pezinah, karena si gadis sudah bertunangan tidak minta tolong, pada hal terjadi di kota (23-24)
2. Hukuman mati hanya bagi pemerkosa gadis perawan yang telah bertunangan, karena kejadian di padang di luar kota, ia berteriak pun tak ada yang menolong (25-27)

Hukuman atas persetubuhan di luar nikah, dalam hal si wanita belum punya akad nikah  (28-29)
1. Hukuman bagi pemerkosa harus memperistri si gadis seumur hidupnya dan membayar 50 syikal kepada ayah si gadis, karena si gadis masih perawan dan belum bertunangan (28-29)

Ayat kunci utama: Ulangan 22:24
24 maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.

Pokok pikiran/tema utama:
Berzinah atau memperkosa adalah perbuatan jahat, yang harus diganjar setimpal semaksimalnya dengan hukuman mati.

Istilah penting: memaksa, tidur, memperkosa, jahat

Ciri khas: ---

Hubungan struktural utama: sebab-akibatApabila seorang laki-laki meniduri gadis yang masih perawan yang telah bertunangan, sehingga terjadi perzinahan, maka ke-duanya dilempari batu sampai mati (23-24). Tetapi apabila yang terjadi adalah pemerkosaan, ia menidurinya secara paksa, maka yang dilempari batu sampai mati hanya si lelaki (25-27). Apabila ia merniduri dengan paksa gadis perawan yang belum bertunangan, maka ia harus memperisterinya selama hidupnya dan membayar lima puluh syikal kepada ayah si gadis (28-29).

Ayat paralel:
ay 28-29: Kel 22:16-17   Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin. 17 Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan.

Ayat Konteks:
Ul 4:44-28:68 . . . Principles for Godly Living –hidup kudus
Ul 21-26 . . . Laws for human relationships –hubungan antar manusia
Ul 22:13-30 . . . Marriage Violations –KDRT

LIVE APPLICATION BIBLE—New International Version p. 310
22:13-30  Why did God include all these laws about sexual sins? Instructions about sexual behavior would have been vital for three million people on a 40-year camping trip. But they would be equally important when they entered the promised land and settled down as a nation. Paul, in Col 3:5-8, recognizes the importance of strong rules about sex for believers because sexual sins have the power to disrupt and destroy the church. Sins involving sex are not innocent dabbling in forbidden pleasures, as is so often portrayed, but powerful destroyers of relationships. They confuse and tear down the climate of respect, trust, and credibility so essential for solid marriages and secure children.

Dosa seksual … Kol 3:5-8  Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

Memperkosa:
2 Sam 13:12 … Tetapi gadis itu berkata kepadanya: "Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.

2Sam 13:20  Bertanyalah Absalom, kakaknya, kepadanya: "Apakah Amnon, kakakmu itu, bersetubuh dengan engkau? Maka sekarang, adikku, diamlah saja, bukankah ia kakakmu, janganlah begitu memikirkan perkara itu." Lalu Tamar tinggal di rumah Absalom, kakaknya itu, seorang diri.

2Sam 13:22  Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya.

Yeh 22:11  Yang satu melakukan kekejian dengan isteri sesamanya dan yang lain menajiskan menantunya perempuan dengan perbuatan mesum, orang lain lagi memperkosa saudaranya perempuan, anak kandung ayahnya.

Kej 34:7  Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan.

Ay 23 gadis perawan yang terlah bertunangan … Im 19:20-22   Apabila seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang perempuan, yakni seorang budak perempuan yang ada di bawah kuasa laki-laki lain, tetapi yang tidak pernah ditebus dan tidak juga diberi surat tanda merdeka, maka perbuatan itu haruslah dihukum; tetapi janganlah keduanya dihukum mati, karena perempuan itu belum dimerdekakan. 21 Laki-laki itu harus membawa tebusan salahnya kepada TUHAN ke pintu Kemah Pertemuan, yakni seekor domba jantan sebagai korban penebus salah. 22 Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu dengan domba jantan korban penebus salah di hadapan TUHAN, karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia beroleh pengampunan dari dosanya itu.

Sexual perversion, judgment upon:
Death … Im 20:13-16   Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. 14 Bila seorang laki-laki mengambil seorang perempuan dan ibunya, itu suatu perbuatan mesum; ia dan kedua perempuan itu harus dibakar, supaya jangan ada perbuatan mesum di tengah-tengah kamu. 15 Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itupun harus kamu bunuh juga. 16 Bila seorang perempuan menghampiri binatang apapun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. >> melakukan dosa seksual apapun ganjarannya hukuman mati! = penyembahan berhala

Penyataan Kristus: Maha adil

PENAFSIRAN
Hal-hal utama
:
a. Istilah utama: tidur (di luar nikah, dpl KDRT)

b. Hubungan utama: sebab-akibat*Apabila seorang laki-laki meniduri gadis yang masih perawan yang telah bertunangan, sehingga terjadi perzinahan, maka ke-duanya dilempari batu sampai mati (23-24). Tetapi apabila yang terjadi adalah pemerkosaan, ia menidurinya secara paksa, maka yang dilempari batu sampai mati hanya si lelaki (25-27). Apabila ia merniduri dengan paksa gadis perawan yang belum bertunangan, maka ia harus memperisterinya selama hidupnya dan membayar lima puluh syikal kepada ayah si gadis (28-29). > *) dhi hubungan kondisi prasyarat-hasil (jika … maka).

-- Aspek utama: siapa yang jadi korban KDRT (ada 3 kasus KDRT dg korban berbeda: 1. calon suami, 2. si gadis + tunangannya, 3. si gadis + orang tua; >> demi pemeliharaan kerukunan hubungan antar manusia > persatuan umat atau penegakan kekudusan ikatan perkawinan > persetubuhan di luar pernikahan adalah perbuatan jahat >penghapusan yang jahat dari tengah persekutuan > ganjaran hukuman paling berat)

c. Tema utama/pokok pikiran utama:
Berzinah ataupun memperkosa adalah perbuatan jahat, yang harus diganjar dengan hukuman setimpal beratnya, semaksimalnya hukuman mati.

Tanya jawab penafsiran:
Definisi
1) Apakah yang dimaksud dengan “tidur” dalam: “seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia” (ay 23), “laki-laki itu bertemu dengan gadis yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu tidur dengan dia” (ay 25), dan “seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia” (ay 28)?
     -- tidur dengan dia = bersetubuh; dhi persetubuhan di luar nikah, bukan antara suami-isteri
     -- ay 23 secara suka rela, yi perzinahan, 
     -- ay 25 dan ay 28 secara paksa, yi perkosaan

2) Siapakah yang menjadi korban dalam masing-masing kasus? 
     -- ay 23 calon suami si gadis
     -- ay 25 si gadis dan calon suaminya
     -- ay 28 si gadis dan orang tuanya

Alasan
3) Kenapa perbuatan “tidur” tersebut terjadi? 
     -- yang bersangkutan, yi yang mengiakan (ay 23) dan yang memaksa (ay 25 dan ay 28), tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya sedemikian sehingga melakukan pelanggarakan hukum

4) Kenapa orang lain selain si gadis juga menjadi korban?
     -- ay 23 dan ay 25 terjadi pelanggaran akad nikah, maka pasangan dalam akad nikah tersebut menjadi korban
     -- ay 28 si orang tua menjadi korban, karena peristiwa itu merusak masa depan anak gadisnya dan membawa aib dalam keluarga

Cara
5) Bagaimana perbuatan “tidur” tersebut bisa terjadi?
     -- ay 23 si gadis tanpa pikir panjang mau dan setuju menerima ajakan si pria
     -- ay 25 dan ay 28 si gadis dipaksa dan tidak mampu menolak atau melawan, juga keadaan tak memungkinkan teriakannya minta tolong didengar orang

6) Bagaimana ada orang lain di luar si gadis menjadi korban?
     -- ay 23 dan ay 25 si gadis perawan sudah bertunangan
     -- ay 28 si gadis masih berada dalam asuhan orang tuanya, pihak yang berhak menerima mas kawin

Implikasi
7) Apa yang tersirat dari ke tiga peristiwa “tidur” tersebut? 
     --  yang terjadi adalah pelakuan dosa seksual, dhi dilakukan oleh wanita dan atau pria, yi perzinahan atau perkosaan, bisa menjadi penyebab yang sangat kuat merusak kerukunan hubungan antar manusia
Lihat juga: Kej 34:7  Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan

Im 19:20-22   Apabila seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang perempuan, yakni seorang budak perempuan yang ada di bawah kuasa laki-laki lain, tetapi yang tidak pernah ditebus dan tidak juga diberi surat tanda merdeka, maka perbuatan itu haruslah dihukum; tetapi janganlah keduanya dihukum mati, karena perempuan itu belum dimerdekakan. 21 Laki-laki itu harus membawa tebusan salahnya kepada TUHAN ke pintu Kemah Pertemuan, yakni seekor domba jantan sebagai korban penebus salah. 22 Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu dengan domba jantan korban penebus salah di hadapan TUHAN, karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia beroleh pengampunan dari dosanya itu.

Im 20:13-16   Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. 14 Bila seorang laki-laki mengambil seorang perempuan dan ibunya, itu suatu perbuatan mesum; ia dan kedua perempuan itu harus dibakar, supaya jangan ada perbuatan mesum di tengah-tengah kamu. 15 Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itupun harus kamu bunuh juga. 16 Bila seorang perempuan menghampiri binatang apapun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri

     -- dalam hal perzinahan menimbulkan kebencian pada suami atau tunangan dan istri ybs, bahkan juga kerabatnya, terhadap masing-masing pelaku ybs, yang mengganggu ketenteraman hidup, maka merupakan kejahatan yang tidak bisa dan tidak boleh ditolerir.
     -- dalam hal terjadi di tengah suatu jemaat, maka ybs harus dikenakan hukum siasat “pemecatan” gereja (dapat diterima kembali setelah pertobatan)

8) Apa yang tersirat dari peristiwa tersebut bagi para korban?
     -- ay 23 dan ay 25 rasa benci dan dendam timbul pada diri koban, dapat merusak keselarasan rumah tangga kelak, dan keinginan balas dendam atau menjadi hakim sendiri terhadap pelaku, merusak ketenteraman hidup si korban, maka si pelaku harus dilenyapkan, dihukum mati

Lihat juga: 2 Sam 13:12 … Tetapi gadis itu berkata kepadanya: "Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.

2Sam 13:20  Bertanyalah Absalom, kakaknya, kepadanya: "Apakah Amnon, kakakmu itu, bersetubuh dengan engkau? Maka sekarang, adikku, diamlah saja, bukankah ia kakakmu, janganlah begitu memikirkan perkara itu." Lalu Tamar tinggal di rumah Absalom, kakaknya itu, seorang diri.

2Sam 13:22  Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya.

     -- ay 28 si korban dapat kehilangan martabat dan kehormatan di tengah masyarat dan kerabat, kecuali si pelaku memperistri si gadis seumur hidupnya dan membayar mahar sebagai mana seharusnya dalam pernikahan biasa  

Lihat juga: Kel 22:16-17   Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin. 17 Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan.

9) Apa yang tersirat dari peristiwa tersebut bagi masyarakat Kristen umumnya, anggota Jemaat suatu gereja khususnya?
      -- untuk mencegah kejadian serupa di tengah jemaat, kehidupan rohani dan pengajaran Alkitab bagi setiap anggota jemaat perlu semakin ditingkatkan, demi peningkatan iman dan penguasaan diri yang bersangkutan.

Lihat juga: Kol 3:5-8  Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

      -- Dosa yang melibatkan seks adalah perusak sangat kuat bagi hubungan antar manusia. Mengacaukan dan merobek iklim respect, kepercayaan, dan kredibilitas yang sangat diperlukan bagi pernikahan kokoh dan kemantapan anak-anak.  Sins involving sex are not innocent dabbling in forbidden pleasures, as is so often portrayed, but powerful destroyers of relationships. They confuse and tear down the climate of respect, trust, and credibility so essential for solid marriages and secure children

Kesimpulan:
1. Sama dengan perbuatan dosa seksual lainnya, perzinahan dan perkosaan adalah perbuatan jahat yang harus dilenyapkan
2. Pantas mendapat ganjaran hukuman seberat-beratnya, karena dapat merusak hubungan antar manusia yang rukun dan damai, selain merupakan dosa pelanggaran terhadap hukum Tuhan.
3. Demi ketenteraman hidup dan masa depan para korban yang bersangkutan

Pesan:
Berzinah ataupun memperkosa adalah perbuatan jahat, yang harus dilenyapkan dari tengah-tengah persekutuan jemaat, yang harus diganjar dengan hukuman setimpal beratnya, namun demi kasih diberi pembinaan dan kesempatan bertobat.

PENERAPAN
Evaluasi
:
Prinsipnya masih berlaku di tengah msasyarakat dewasa ini, termasuk dalm persekutuan setiap gereja, perbuatan zinah dan perkosaan adalah perbuatan jahat, yang harus dilenyapkan dari tengah persekutuan.

Butir-butir penerapan:
1. Intensifikasi pengajaran firman bagi semua anggota jemaat pada semua tingkatan.

Tekad/Tujuan
Meningkatkan penguasaan atau pengendalian diri terhadap dosa seksual apa pun.

Ayat hapalan: Ulangan 22:24
24 maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu

IMS 100916

Diskusi PA:

1. Dalam perikop PA/Sermon ini, difirmankan tentang tiga kasus KDRT (Kejahatan/Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang menyangkut dosa seksual. 1) Sebutkan dan uraikan satu persatu! 2) Ada persamaan dan ada perbedaan di antara ketiganya. Apa sajakah itu? 3) Siapa sajakah korbannya, kenapa?

1. Kasus (ay 23-24; ay 25-27; ay 28-29):

 

2. Persamaan dan perbedaan:

 

3. Korban:

 

2. a) Apa alasan pembenaran perbedaan pengenaan hukum dalam ke tiga kasus tersebut di atas? b) Apa alasan hakiki untuk pengenaan hukuman yang sedemikian beratnya, yaitu hukuman mati bagi pelaku perzinahan maupun perkosaan?

Ayat rujukan: Kej 34:7; Im 19:20-22, 20:13-16; 2Sam 13:12, 20, 22; Kel 22:16-17.

a) Alasan pembenaran:

Kasus 1) Pertimbangan hukum:

 

Tuduhan:

 

Hukuman:

 

Kasus 2) Pertimbangan hukum:

 

Tuduhan:

 

Hukuman:

 

Kasus 3) Pertimbangan hukum:

 

Tuduhan:

 

Hukuman:

 

b) Alasan hukuman mati:

 

 

 

 

3. Bagaimana (seharusnya) sikap dan tindakan gereja dalam hal menghadapi kasus serupa di tengah persekutuan jemaatnya? Apa respons anda mengantisipasi hal tersebut supaya tidak terjadi pada diri anda dan anggota rumah tangga anda?

Ayat rujukan: Kol 3:5-8.

 

 

 

Kesimpulan:

1. Sama dengan perbuatan dosa seksual lainnya, perzinahan dan perkosaan adalah perbuatan jahat yang harus dilenyapkan dari tengah persekutuan Kristen.

s2. Pantas mendapat ganjaran hukuman seberat-beratnya, karena dapat merusak hubungan antar manusia yang rukun dan damai, selain merupakan dosa pelanggaran terhadap hukum Tuhan.

3. Demi ketenteraman hidup dan masa depan para korban yang bersangkutan.

IMS 100923