Tuesday, September 7, 2010

III. KAIDAH PENELAAHAN ALKITAB (4)

6. Mengenal Kesalahan Doktrinal

Azas ketiga juga berguna sebagai alat mengenal dan memahami kesalahan doktrinal. Sebaliknya dapat diterapkan kepada pembawa atau yang melahirkan setiap pengajaran atau doktrin, yaitu apakah mereka memikirkan kepentingan dirinya atau kepentingan Allah

16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. 17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri. 18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya (Yoh. 7:16-18).

Dan karena semua doktrin datang melalui orang, maka kemurnian semua doktrin sangat dipengaruhi keadaan hati pribadi yang membawanya. Maka kita akan mudah memahami kesalahan atau penipuan dengan memahami dosa penyebabnya. Contohnya Galatia 6:12-13

12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah (Gal 6:12-13),

Paulus menunjukkan bahwa keinginan besar mereka untuk menghindari penganiayaan dan untuk bermegah adalah akar penyebab kesalahan doktrinal mereka, yang menyuruh orang non Yahudi juga harus bersunat, sedangkan dalam Markus 7:6-7

6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Markus 7:6-7).

Yesus menunjukkan, bahwa doktrin para Parisi adalah buah dosa dalam hati mereka.


Kita semua akan dihadapkan dengan doktrin-doktrin yang meragukan, maka kita memerlukan dasar alkitabiah yang konsisten untuk mengevaluasinya. Tetapi disamping PA, anda harus peka terhadap dosa, “keluarkan dahulu balok dari matamu”. . .

5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat. 7:5).


Berikut ini sepuluh macam dosa, lima dosa pertama terhadap Alkitab (yang mudah dideteksi langsung dalam argumentasi yang digunakan) dan lima selebihnya terhadap hati (yang menciptakan kelemahan seseorang terbuka terhadap penipuan).

1. Menolak bagian-bagian dari nas benar Alkitab (terang-terangan atau diam-diam). Sebaliknya, menambah pada nas Alkitab. Dilakukan terang-terangan oleh banyak aliran sesat dan secara halus oleh sebagian orang Kristen, di antaranya Christian Science, Mormon, Saksi Jehovah. Bandingkan Ulangan 4:2, 12:32; Amsal 30:5-6; Wahyu 22:18-19. Juga Ulangan 5:24-29; Yesaya 66:2.

2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu (Ul 4:2).

32 Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya (Ul 12:32).

5 Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. 6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta (Ams 30:5-6),

18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. 19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini." (Wah 22:18-19)

24 dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. 25 Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara TUHAN, Allah kita, kami akan mati. 26 Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti kami dan tetap hidup? 27 Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan TUHAN, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya. 28 Ketika TUHAN mendengar perkataanmu itu, sedang kamu mengatakannya kepadaku, maka berfirmanlah TUHAN kepadaku: Telah Kudengar perkataan bangsa ini yang dikatakan mereka kepadamu. Segala yang dikatakan mereka itu baik. 29 Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya! (Ul 5:24-29);

2 Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku. (Yes 66:2).

2. Mempertentangkan satu nas terhadap nas lain. Misalnya Ulangan 6:4 terhadap Daniel 7:9-14 atau Kisah 10:38

4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4)

terhadap

9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; 10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. 11 Aku terus melihatnya, karena perkataan sombong yang diucapkan tanduk itu; aku terus melihatnya, sampai binatang itu dibunuh, tubuhnya dibinasakan dan diserahkan ke dalam api yang membakar. 12 Juga kekuasaan binatang-binatang yang lain dicabut, dan jangka hidup mereka ditentukan sampai pada waktu dan saatnya. 13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:9-14),

atau

yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia (Kis 10:38);

yang melakukan ini menunjukkan ia tidak sepenuhnya memahaminya.

3. Mencari dukungan untuk gagasan praduga--pikiran tertutup. Sadar atau tak sadar membuat Alkitab mengatakan apa yang dimauinya. Suatu masalah kehilangan obyektivitas.

4. Berusaha keras mendamaikan kebenaran Allah dengan filsafat duniawi--kompromi. Jenis spesifik dari dosa terdahulu, sangat umum. Kita diingatkan oleh Paulus akan bahayanya, lihat Kolose 2:8 dan 1 Korintus 1:20-21

8 Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kol 2:8)

dan

20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1 Kor 1:20-21),

menghasilkan: etika situasi dan humanisme sekular.

5. Menerima (atau menolak) pengajaran tanpa penelaahan pribadi dan doa--kesembronoan. Umum diantara orang Kristen. Bandingkan:

11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.12 Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani (Kis 17:11-12);

15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu (2 Tim 2:15).

6. Menolak menuruti tuntunan atau pendirian Roh Kudus. Akibat terbiasa tidak patuh pada tuntunan dan perintah Allah (Kis 28:27; Mat 13:15; 1Tim 4:1-3)

27 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka (Kis. 28:27);

15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka (Mat. 13:15);

1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran (1 Tim. 4:1-3).

Bagaimana seharusnya, lihat Ibr 5:11-14 dan 1Kor 3:2

11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. 12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. 13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. 14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat (Ibr 5:11-14);

2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya (1 Kor 3:2).

7. Gila pengetahuan. Keinginan akan pengetahuan tanpa keinginan tulus untuk hidup dalam kasih (1Kor 8:1-3; 1Kor 13:2)

1 Tentang daging persembahan berhala kita tahu: "kita semua mempunyai pengetahuan." Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. 2 Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. 3 Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah (1 Kor. 8:1-3);

2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna (1 Kor 13:2).

Bandingkan bagaimana seharusnya

5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. 6 Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. 7 Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan (1 Tim 1:5-7);

1 Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang. 2 Jika tuan mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena tuan yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih. (6-2b) Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini 1 Tim 6:1-2);

8 Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia. 9 Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka (Tit 3:8-9);

3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tan 6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. 9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, 10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita (Tit 2:3-10).

8. Penyembahan berhala--pemujaan berlebihan. Kasih sayang yang salah alamat. Apa yang kita kasihi, pada apa kita percaya, siapa yang kita percayai, di mana kita menyimpan harta, kesemuanya menunjukkan siapa atau apa yang kita sembah. Jika kita lebih mengasihi atau lebih percaya pada sesuatu dari pada Allah, atau menyimpan harta di suatu tempat lebih daripada dalam Allah, itu adalah penyembahan berhala. Akibatnya pikiran kita dibutakan dan hati kita dikeraskan, kehilangan kepekaan akan kebenaran dan terbuka akan penipuan, dan kehilangan kemampuan menerima berkat Allah dengan iman. Maka carilah dan pikirkanlah perkara yang di atas . . .

1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. 2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-2).

9. Iman pada diri sendiri. Semacam penyembahan berhala juga. Menagih berkat dengan motif yang salah

3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu (Yak. 4:3),

demi memuaskan keinginan sendiri, tanpa terlebih dahulu mentaati perintah

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37),

tanpa

“. . . carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

10. Keinginan membenarkan diri. Kesalahan hati yang sangat umum yang menuntun kepada kesalahan penafsiran, akibat kecenderungan hati duniawi mecoba membenarkan sikapnya yang salah tidak mengasihi dan menaati Allah dari dalam hati. Hasilnya, kesukaan memberi kelonggaran dan legalisme.

Ke lima dosa terakhir menekankan betapa vitalnya hati yang murni untuk doktrin yang murni, karena

“dengan hati orang percaya” (Rom. 10:10).

Tak soal sebagaimana terdidiknya pun pikiran, hati yang tak murni akan konsisten mengaburkan kebenaran.


Daftar di atas belumlah mencakup semua yang mungkin ada, tetapi cukuplah contoh untuk memahami masalahnya.


Setelah memahami kaidah PA dengan baik, mulailah coba lanjutkan dengan penerapannya dalam PA-PRIBADI. Lakukan secara rutin sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua minggu. Sebaiknya diselesaikan dalam satu sesi.

IMS 100907

Monday, September 6, 2010

III. KAIDAH PENELAAHAN ALKITAB (3)


5. Pondasi Pribadi--Memahami Alkitab Dan Menerima Hidup Kekal

Dari awal sampai akhir, Alkitab mengungkapkan Allah sebagai Pencipta dan sebagai Penyelamat. Pengungkapan ini membentuk pemahaman lengkap kita tentang sifat-Nya, karya-Nya, dan tujuan-Nya. 

Sebagai Pencipta, kita melihat-Nya sebagai kekal, kudus, maha kuasa, dan “ada-sendiri”--suatu Pribadi, Hakim, Raja. Sebagai Penyelamat, kita melihat Allah menjangkau dari tempat kekekalan-Nya dan kekudusan-Nya membantu umat manusia yang tersandung (melakukan kesalahan yang bodoh). Ia menebus dosa mereka dan bekerja untuk memulihkan persekutuan dengan mereka. Ia mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk memperkuat, menyembuhkan, menuntun, dan memulihkan mereka. Ia memanggil mereka dengan nama, dan akhirnya merangkul bersama-Nya semua orang percaya ke kehidupan kekal di surga.

 Dengan pengungkapan ini pula Ia menyatakan inti persekutuan kita pada-Nya, bahwa:
· kita adalah milik-Nya, Ia bebas berbuat apa saja kepada kita¾karena Ia menciptakan kita (Maz. 24:1-2)
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. 2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai (Maz 24:1-2)
· ia memilih mengisi hidup kita dengan hal-hal baik--karena Ia adalah Allah dari kasih--, memuaskan kita dengan “madu dari gunung batu”, dan memberi kita makan “gandum yang terbaik” (Maz. 81:16),
Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Maz 81:6)
jika kita mau mengasihi-Nya dan hidup rendah hati didepan-Nya.

Tetapi kita membangkang dan memilih jalan sendiri terlepas dari pada-Nya, menurut rencana, keinginan, dan kekuatan kita sendiri (Ams. 16:25),
Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut, (Ams 16:25)
namun Ia menebus kita dengan mahal (1 Kor. 6:19-20; 1 Petr. 1:18-19)
19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor 6:19-20)!
18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Pet 1:18-19).
Ia ingin pula berbagi hati dengan kita dan menjadi sekutu, Allah ingin kita akrab dengan-Nya. Tetapi keinginan ini tak terwujud selama kita hidup dalam dosa, memboroskan kasih sayang pada hal-hal duniawi (Maz. 73:25; Mat 22:36-38)
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi (Maz 73:25).
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama (Mat 22:36-38).
Lalu bagaimana kita dapat hidup layak bagi Allah? Dengan iman (Ibr. 11:6; Rom. 1:16-17)
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibr 11:6);
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman" (Rom 1:16-17)!
Iman adalah menanggap dari lubuk hati paling dalam dan roh kita kebenaran Firman Allah, jadi, berserah secara pribadi kepada wewenang Allah Mahakuasa Pencipta kita dan kepada ketuhanan Yesus Kristus Juru Selamat, Penebus kita, mengaku dengan mulut bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil 2:9-11);
8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. 9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. 10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. 11 Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." 12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. 13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (Rom 10:8-13).
Lalu mengalami “lahir baru” menjadi ciptaan baru, menerima hidup baru
23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. 24 Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur (1 Pet 1:23-25).
Kemudian masuk dalam persekutuan dengan Allah, dengan sukacita mengenal Dia sebagai:
sahabat kita
6 TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Maz. 118:6);
Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Rom. 8:31);
8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rom. 5:8),
sekutu kita
23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel"—yang berarti: Allah menyertai kita (Mat. 1:23);
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20);
3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yoh. 1:3),
dan Bapa kita
9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu (Mat. 6:9),
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat 6:26),
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:31-33).
Jadi, pilihlah Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan hiduplah setia pada pilihan itu. Inilah pondasi yang Allah berikan kepada kita dalam Alkitab. Pondasi kita untuk mengetahui tentang Allah, dan untuk mengenal Allah, pondasi kita untuk hidup, dan tentu pondasi kita untuk memahami Alkitab. Alkitab menjadi susu kita, makanan kita
23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. (1 Petr. 2:2-3).
Maka kita mempunyai pondasi yang diperlukan untuk secara pribadi memahami Alkitab:

· dengan pikiran, kita dapat memetik dari pengalaman hidup dengan iman, untuk membantu memahami apa yang kita baca
7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-- (2 Kor. 5:7),
· dengan hati, kita dapat menyamakan dengan pergumulan dan godaan orang-orang yang Allah panggil dalam ikatan akad dengan diri-Nya, dan dapat bersimpati dengan hati Allah ketika Ia menuntun dan menguduskan umat-Nya, dan

· dengan roh, kita belajar “mendengar” suara Gembala kita
3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." (Yoh. 10:3-5);
11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; (Yoh. 10:11),
mengenal dan membedakan suara-suara asing yang menyesatkan, dan belajar “melihat” di balik pertempuran dalam hidup dan dalam Alkitab kepada tujuan konsisten Allah memulihkan kita pada-Nya dan pada Anak-Nya.

Jadi, untuk menguak dan menyibak kedalaman Alkitab, memahami demikian banyaknya pengungkapan dalam Alkitab yang tak dapat ditangkap oleh pikiran manusia duniawi
1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor. 3:1-3),
hidup beriman adalah perlu, yaitu “Apakah saya sejalan dan selaras?”, sedangkan menjadi Kristen barulah langkah pertama.
IMS 100906

Friday, August 27, 2010

III. KAIDAH PENELAAHAN ALKITAB (2)

3. Azas Kedua: “Apakah Dia Sejalan dan Selaras?”

Seperti halnya musik yang baik, Alkitab mempunyai keselarasan dan alunan atau kesejalanan. Ia berselarasan dengan mengemukakan banyak sudut pandang berbeda dari kebenaran yang sama tanpa ada pertentangan, dan ia sejalan dengan mengembangkan tema secara logis dan mengungkapkan kebenaran secara bergerak maju, hasil pengilhaman Roh Kudus kepada para penulisnya. Maka disamping keselarasan yang sempurna selalu ada arah yang jelas, suatu kesejalanan tertentu yang mendasari setiap nas kitab suci.

Jika anda bersungguh terus menanyakan, “Apakah dia sejalan dan selaras?”, pertama anda akan terbantu membenarkan atau menyanggah jawaban anda atas pertanyaan, “Apa katanya?” dan kedua anda disadarkan akan aliran wahyu dibawah permukaan dari apa yang anda baca dan pada waktu yang sama memandu anda menjelajahi seluas-luasnya.

Misalnya, kitab Matius pasal 12 sepertinya tidak “nyambung” bagian-bagiannya satu sama lain, apa hubungannya berbagai konfrontasi dengan Parisi dan dengan keluarga satu sama lainnya dan dengan kitab Matius keseluruhannya. Jika kita rajin menanyakan pertanyaan, “Apakah dia sejalan dan selaras?”, maka penelaahan kita akan menyingkap kebenaran yang dekat dengan hati Allah dan penting bagi kehidupan Kristiani. Dalam hal Matius 12 ini kesemua tema yang tersingkap bersama ternyata berkisar sekitar penegakan Kerajaan Allah di dunia.

Jadi, pengujian pertama yang dikenakan pada setiap tafsiran alkitabiah adalah pertanyaan, “Apakah dia selaras dengan bagian lain dari Alkitab?” Alkitab bukan sekumpulan penulis yang semua mengatakan hal yang sama. Beban mereka berbeda, seperti halnya tujuan mereka menulis, perspektif mereka, dan pengalaman pribadi mereka. Namun suara mereka yang berbeda berpadu menghasilkan suatu kesatuan penyataan tentang pergaulan Allah dengan manusia, dan manusia dengan Allah.

Tetapi pengujian ini tak dapat diterapkan secara sambil lalu. Perlu waktu untuk mengujinya dari segala sudut. Perlu keakraban tertentu dengan Alkitab untuk menggunakan pengujian ini dalam pembacaan sehari-hari. Untuk itu adalah bijaksana sebelum anda memulai kegiatan Penelaahan Alkitab, anda mulai dulu membaca Alkitab dengan hanya membacanya saja dengan pikiran terbuka, berulang beberapa kali, untuk menjadi akrab dengan pesannya, strukturnya, dan penekanannya; disarankan memulainya dengan Perjanjian Baru. Terlebih penting lagi keakraban ini perlu dalam pengujian hal pokok yang berikut:

· doktrin, yaitu pengajaran paling penting dari Kitab Suci, haruslah diajarkan secara sengaja paling tidak dua kali, haruslah sepenuhnya sesuai dengan bagian lain Alkitab, baik dalam roh maupun dalam huruf, dan dalam hal pelaksanaannya, seperti halnya baptisan, haruslah jelas diperagakan.
· pengajaran yang berasal langsung dari tujuan ilahi atau watak ilahi sebagaimana terungkap--misalnya 1 Yohanes 4:7-8 (watak Allah yang terungkap, pengajaran tentang kasih)
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih;
1 Timotius 1:5 (tujuan Allah yang terungkap, tentang nasihat yang tulus)
Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas;
Matius 22:36-38 (batasan paling menentukan yang terungkap bagi penempatan semua pengajaran dalam perspektif, yang Yesus ajarkan sebagai hukum yang terutama dan pertama)
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Maka tafsiran yang tidak selaras dengan keseluruhan Alkitab, tak dapat dipercayai; dan yang penekanannya bukan pada Allah, adalah tak serasi atau timpang.

“Apakah dia sejalan?” adalah pengujian berikutnya. Terdapat kesejalanan berkesinambungan di dalam sesuatu kitab dan dari kitab yang satu ke kitab yang lain, karena membawa beban hati penulisnya, dan napas yang sama dari Allah menyentuh setiap penulis, memberikan penglihatan surgawi yang sama pada keadaan lingkungan mereka yang berbeda. Jika anda menemukan kesejalanan dalam setiap kitab, maka anda akan menemukan beban dari Allah yang memaksa mereka menulis, di situ juga anda menemukan terungkap rahasia hati Allah. Ini selalu muncul dalam pergumulan dalam hati para tokoh yang terlibat, termasuk anda yang coba memahaminya.

Memahami konsep kesejalanan dalam Alkitab, maka anda mengenal hukum konteks. Arti yang tepat dari sesuatu cuplikan atau kata hanya dapat ditentukan oleh konteksnya.

Sifat lain dari kesejalanan alkitabiah adalah adanya tujuan yang jelas. Hanya apabila anda menangkap beban hati si penulis terungkap barulah anda betul-betul memahami tujuan kitab tersebut.
Dengan memusatkan perhatian pada tujuan dan beban penulis, anda akan juga melihat arah dalam tulisannya. Jalan selalu mempunyai arah. Ikutilah!

Dimensi lain dari kesejalanan adalah struktur. Selalu ada struktur; jalan pemikirannya tak pernah acak. Struktur paling sederhana adalah argumentasi atau pembuktian logis. Lainnya: hubungan sebab dan akibat, sengketa dan penyelesaian. Struktur lain adalah struktur baris demi baris, atau kisah demi kisah; tema alkitabiah ada kalanya dibangun dengan memperkuat dan mengimbangi. Contoh jelas adalah kitab Amsal, tetapi juga ada di bagian lain Alkitab (kisah demi kisah); sepintas kelihatannya nas sedemikian tidak sejalan hanya berupa deretan pengajaran.

Contoh sederhana adalah Lukas 10:25-42.
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Ayat 38-42, yang sepertinya tak ada kaitannya, justru adalah penentu, khususnya ayat 42, yang menekankan hanya ada satu hal tak boleh diabaikan, duduk di kaki Tuhan mendengar kata-kataNya. Sepintas sepertinya ke empat cuplikan nas tak ada kaitannya, tetapi pengajarannya tak terpisah dalam kesejalanan dari Injil Lukas.

4. Azas Ketiga: “Apakah Saya Sejalan dan Selaras?”

Dalam membaca Alkitab, anda harus menemukannya sejalan dan dalam keselarasan dengan dirinya, tetapi seperti Matius 12, ia juga harus selaras dengan hidup Kristiani nyata sehari-hari. Dan juga harus selaras dengan sifat Allah dan pengungkapan diri-Nya dalam alam. Jika anda menangkap keselarasan dan kesejalanan ini, maka dapatlah anda berbesar hati bahwa pemahaman anda atas Alkitab pada dasarnya adalah betul. Sebaliknya, jika nampaknya tak ada kesejalanan dan banyak kontradiksi, itu suatu petunjuk bahwa pemahaman anda keliru. Masalahnya bukan pada Allah maupun Alkitab, maka anda harus mencarinya dengan menanyakan pertanyaan dasar ketiga, “Apakah saya sejalan dan selaras?” Yaitu, apakah saya selaras dengan Allah dan kehendak-Nya, dan apakah saya sejalan karena anugerah dengan Roh-Nya dan dengan umat-Nya?

Tak akan ada pemahaman mendalam akan Alkitab tanpa secara pribadi “sejalan dan selaras” bersama Allah. Dan inilah yang terjadi pada semua kesalahan doktrinal dan berbagai ragam penyesatan, yaitu hasil pendekatan Alkitab dengan hati yang tak sejalan dan selaras dengan apa yang dibacanya.

Tujuan Allah memberikan Alkitab kepada manusia tidak pernah untuk memberikan semua pemahaman kepada siapa saja yang ingin tahu. Tujuan-Nya adalah memanggil manusia kepada diri-Nya, dan kemudian memandu dan mendampingi mereka yang hatinya rindu hidup menuruti hukum-Nya dan menyenangkan-Nya. Dan bagi mereka, Allah menyediakan upah kekal.

Maka demikianlah, Alkitab (“hal-hal yang dinyatakan”) telah mencapai tujuannya jika telah mengenyangkan dan menuntun hati yang lapar akan Allah dan kebenaran. Mereka yang tidak mempunyai keinginan memahami dan mengikuti Firman akan kebingungan sama sekali
11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. 16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar (Mat. 13:11-16).
Kita juga tahu bahwa keinginan untuk melakukan kehendak Allah memberi kedalaman pandang ke dalam Firman
Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri (Yoh 7:17).
Dan sebaliknya, kita tahu bahwa mereka yang mengabaikan Firman Allah akan menuju keteperdayaan
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yak. 1:22).
Bahkan Allah mendatangkan kesesatan pada mereka yang menyukai kejahatan
Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan (2Tes. 2:11-12).
Tetapi secara pribadi Ia nenjelaskan kitab suci kepada mereka yang jalan dekat-Nya
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk. 24:13-32)
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yoh. 16:13)
Singkatnya, anda dapat berharap akan memahami Alkitab secara layak hanya sejauh anda sejalan dan ingin sejalan bersama Allah, kehendak-Nya, dan ummat-Nya. Karena itu pertanyaan ini menjadi penting, “Apakah saya sejalan dan selaras?” Mengabaikan azas ini selamanya mendatangkan bencana.

Anda memahami banyak dari Alkitab dengan iman. Dalam hal pikiran anda tak dapat membuktikan atau tak dapat menangkap masalahnya, anda menyerahkan pemahaman anda kepada Allah dan meminta-Nya supaya menuliskan kebenaran itu dalam roh dan hati anda. Lalu kemudian ketika anda menanggapi Alkitab secara pribadi, anda akan menerima pemahaman dari Roh Allah langsung ke roh anda. Pikiran memang terlibat, tetapi iman bukanlah terutama pengalaman intelektual. Iman adalah MENANGGAPI dari diri paling dalam anda--hati dan roh anda-- kepada kebenaran Firman Allah.

Jadi, azas yang paling menentukan adalah yang ketiga-- tanggapan anda. “Apakah hidup saya selaras dengan Firman Allah, dan apakah saya sejalan bersama Roh-Nya dengan kehendak-Nya bagi hidup saya, dan dengan ummat-Nya?” Inilah yang memberi pengertian ke dalam nas kitab suci! Bandingkan penjelasan Paulus dalam 1 Korintus 2:11-16
11 Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. 12 Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. 13 Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. 14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. 15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. 16 Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.
Kaitkan juga dengan 1 Korintus 3:1-3
1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
Kadar seberapa banyak seseorang sejalan dan selaras bersama Allah adalah berbanding langsung dengan kemampuannya memahami Alkitab, dan adalah inti dari azas ketiga.

Anda dapat menemukan Alkitab adalah harta karun yang tak ada habisnya dari hikmat dan wahyu, dan sumber sukacita dan kekuatan, dimana setiap pengertian baru menjelaskan penglihatan kita akan Allah, kerajaan-Nya, dan tempat kita dalam rencana kekal-Nya. Tetapi ini hanya terjadi apabila kita mengambil setiap pengertian dan menerapkannya langsung pada hidup dan hati kita pribadi untuk membawa diri kita sendiri ke dalam keselarasan dengan Firman Allah. Hanya dalam konteks iman yang hidup ini Firman Allah menjadi hidup oleh Roh Allah untuk mengubah hati dan menyembuhkan hidup yang berantakan; hanya dalam konteks iman hidup ini ia dapat mengungkapkan kebenaran kekal, dan mengantar kita kedalam berkat kekal dari Allah Bapa.

Benih tidak akan hidup kecuali ditanam dalam tanah yang subur. Demikian pula nas Kitab Suci tidak hidup bila terlepas dari hati yang beriman. Dengan perkataan lain,
“Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, . . .” (Yoh. 7:17).
Hukum dasar ilmu tafsir (hermeneutics) mengingatkan kita tidak mengambil suatu cuplikan nas keluar dari konteksnya dalam Alkitab. Konteks yang Allah maksudkan untuk Alkitab tidak boleh dilupakan,
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir” (Mat. 7:24, 26). “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini" (Ul. 29:29),
yaitu sebagai panduan hidup, dan sebagai sumber dorongan dan kekuatan untuk mereka yang ingin tetap setia dalam masa-masa sulit.

Allah memberi Alkitab kepada orang-orang yang mempunyai akad, atau perjanjian, dengan Dia untuk mempercayai, mengasihi, dan mentaati Dia supaya Dia sebaliknya memelihara mereka, memberkati mereka, dan memuliakan nama-Nya di tengah-tengah mereka. Dan Dia memberi tiap bagian nas kepada mereka untuk membantu mereka berjalan dalam ikatan akad tersebut, atau memulihkan mereka kepadanya jika mereka memutusnya, supaya dengan demikian Ia dapat lanjut memberkati mereka dan menegakkan nama-Nya di bumi! Terlepas dari ikatan akad demikian, Alkitab adalah “diluar konteks” dan sangat bisa disalah tafsir, diputarbalikan atau bahkan dibuang sebagai palsu.

Jadi, hanya seseorang dalam ikatan akad dengan Allah mempunyai satu-satunya dasar kuat untuk memahami Alkitab, terlebih sejak keakraban baru dengan hati Allah dimungkinkan oleh salib Kristus dan oleh pencurahan Roh Kudus. “Apakah saya sejalan dan selaras?” Azas ini bisa berguna pula dalam dua hal lain. Pertama ia dapat mengarahkan kita kepada pondasi pribadi yang tepat untuk memahami Alkitab dan menerima hidup kekal. Dan kedua, ia bisa membantu kita mengenal kesalahan doktrinal dengan memahami penyebabnya.

Thursday, August 26, 2010

PA PRIBADI (17)

Roma 13:8-10                                  Epistel Minggu 29 Agustus 2010

KASIHI SIAPA SAJA SEPERTI DIRI SENDIRI
Sebagai Balasan atas Kasih Allah

8  Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9  Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10  Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Tentang: Hutang saling mengasihi

KASIHI SIAPA SAJA SEPERTI DIRI SENDIRI
(8-10)

Tokoh: Paulus dan orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi di Roma

Tempat/waktu: Roma, Korintus tahun AD 57 sebelum berangkat ke Yerusalem sebelum meneruskan niatnya mengunjungi Spanyol.

Proporsi: mengasihi sesama adalah kegenapan hukum Taurat

Bentuk sastra: surat

Pokok bahasan: saling mengasihi

Ringkasan isi:
Jangan berhutang apa pun  kepada siapapun juga, tetapi hendaklah saling mengasihi. Ini adalah untuk memenuhi hukum Taurat (8-10).
Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana juga sudah tersimpul dalam firman “Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri!” (9).
Karena kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, maka kasih adalah kegenapan hukum Taurat (10)

Ayat kunci utama: Roma 13:8
Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Pokok pikiran/tema utama:
Jangan berhutang kepada siapa pun, tetapi hendaklah saling mengasihi.

Istilah penting: berhutang, kasih (saling mengasihi)

Ciri khas: Surat Paulus ini berbeda bentuk dari surat biasa, lebih berupa tulisan tersusun rapi sebagai pernyataan imannya menjadi tuntunan iman bagi pembacanya

Hubungan struktural utama: penentangan—jangan berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah saling mengasihi, sebab barang siapa mengasihi sesamanya manusia ia sudah memenuhi hukum Taurat (8). Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! (9). Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat (10)

Ayat paralel:
ay 9: Kel 20:13-15, 17   Jangan membunuh. 14  Jangan berzinah. 15  Jangan mencuri. 17  Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."; Im 19:18  Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.; Ul 5:17-19, 21  Jangan membunuh. 18 Jangan berzinah. 19 Jangan mencuri. 21 Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Ayat Konteks
Konteks dekat:
Rom 13:1-7 Kepatuhan kepada pemerintah
-- Rom 13:7  Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Rom 12:1-8 Persembahan yang benar
-- Rom 12:1-2  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Rom 12:9-21 Nasihat untuk hidup dalam kasih
-- Rom 12:9-11  Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Konteks jauh:
ay 8: berhutang—due Mat 18:28, 34  Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.; Rom 13:8 (lihat teks); Flm 19  aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya--agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" --karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.

ay 8: mengasihi sesama … memenuhi hukum Taurat
-- Mat 7:12  "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

ay 9: firman ini … kasihilah sesamamu manusia
-- Yoh 13:34  Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Owe—an obligation of
. Financial debt … Mat 18:24, 34  Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 34 (lihat di atas)

. Moral debt … Flm 18, 19    Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku—19 (lihat di atas)

. Spiritual debt … Rom 13:8 (lihat teks)

Penyataan Kristus: kasih

PENAFSIRAN
Hal-hal utama
:
a. Istilah utama: berhutang
b. Hubungan utama: penentangan—jangan berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah saling mengasihi, sebab barang siapa mengasihi sesamanya manusia ia sudah memenuhi hukum Taurat (8). Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! (9). Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat (10).
      -- Aspek utama: saling mengasihi
c. Tema utama/pokok pikiran utama: Jangan berhutang kepada siapa pun, selain dari pada saling mengasihi.

Tanya jawab penafsiran:
Definisi
1) Apakah maksudnya berhutang dalam ayat 8?
     -- Secara umum berhutang meliputi kewajiban utang finansial (Mat 18:24, 34), utang moral (Flm 18, 19), dan utang rohani (Rom 13:8)
      -- jadi yang dimaksudkan dalam ayat 8 adalah utang rohani

2) Apakah maksudnya saling mengasihi pada ayat 8? 
     -- saling berbuat baik

Alasan
3) Kenapa jangan berhutang?  
     -- jangan berhutang/meminjam kalau tak akan mampu membayar lunas kembali, supaya tidak berhutang
     -- jangan tergoda (spekulasi) berhutang (hanya karena dorongan nafsu) padahal tak bakalan mampu melunasi
     -- jangan berhutang untuk berfoya-foya
     -- jangan membiarkan hutang tak dibayar

4) Kenapa saling mengasihi?
     -- memenuhi hukum Taurat, perintah Yesus

Cara
5) Bagaimana berhutang?
     -- menerima kebaikan orang tanpa membalas
     -- tergoda tawaran tipu orang

6) Bagaimana saling mengasihi?
     -- bersedia mengorbankan waktu, uang, ketenangan, demi orang lain tanpa pamrih
     -- tidak berbuat jahat, merugikan

Implikasi
7) Apa yang tersirat dari pernyataan “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi”? 
     -- Orang berhutang kasih kepada Allah, padahal kita tak akan mampu melunasinya, maka hendaklah selalu menaruh kasih, berbuat baik, kepada orang lain tanpa pandang bulu.

8) Apa yang tersirat dari pernyataan saling mengasihi?
     -- membalas kasih Allah
     -- berbagi kasih kepada orang lain, siapa saja

Kesimpulan:
1.  Demikian besar kasih Allah kepada manusia sampai mengorbankan anak tunggalnya mati tersalib demi menanggung dosa manusia, menjadi tebusan bagi siapa yang mau percaya.
2.  Kita orang percaya tak akan mungkin melunasi hutang kasih Allah selain dari pada balik mengasihi orang lain.
3.  Mengasihi orang lain berarti berbuat baik dan peduli akan orang lain.

Pesan:
Jangan berhutang (terhutang, tak memenuhi kewajiban hutang) apa-apa kepada siapa pun, tetapi hendaklah saling mengasihi.

PENERAPAN
Evaluasi
:
Pelajaran Paulus dan perikop ini juga berlaku bagi semua orang percaya.

Butir-butir penerapan:
1. Berusaha tidak egois, peduli kepentingan, kesejahteraan orang lain juga
2. Selalu berbuat baik bagi orang lain,
3. Memupuk kasih melalui peneguhan iman, tekun ST & PA

Tekad/Tujuan
Tidak mementingkan diri.

Ayat hapalan:

Rom 13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

IMS 100817

Tuesday, August 17, 2010

III. KAIDAH PENELAAHAN ALKITAB (1)

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu (Maz 119:9)
Alkitab adalah tulisan yang Allah ilhamkan
Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu (1 Taw. 28:19),
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.(2 Tim. 3:16).
Pondasinya adalah lubuk hati Allah sendiri, yang mendasari setiap nas, yang menghidupi setiap ayat, yang menopang setiap kitab. Rahasia Penenelaahan Alkitab (PA), dengan demikian, terletak di dalam mencari dan menemukan lubuk hati Allah dalam apa yang kita baca; mendengar hati Allah berbicara dengan hati kita, Roh Allah dengan roh kita, supaya pengertian kita akan Firman, dan hidup kita mentaatinya, menjadi sejalan dan selaras atau serasi dengan keseluruhan Alkitab, hidup kita menjadi suatu kesaksian bagi-Nya dan kemuliaan bagi nama-Nya. Jadi, ini hanya dapat anda lakukan, tiada lain, dengan tuntunan Roh Kudus saja.

1. Disiplin Kaidah Penelaahan
Sementara itu anda harus menerapkan kaidah penelaahan Alkitab dengan sungguh dan benar. Suatu metoda PA atau prosedur PA tertentu biasanya dirancang untuk menemukan tujuan tertentu atau memecahkan masalah tertentu, tetapi kaidah atau azas-azas adalah universal. Adalah mungkin memakai metoda yang baik tetapi karena keliru atau kurang dalam pemahaman azas yang mendasarinya, tanpa disadari telah mengabaikan salah satu azas dimaksud.

Ada banyak metoda PA yang berbeda, seperti penelaahan watak, penelaahan tokoh, penelaahan kitab, penelaahan pasal, penelaahan ayat, penelaahan kata, penelaahan tema, penelaahan topik, menelusuri Alkitab dalam setahun, dan lain-lain. Namun ada azas-azas universal yang mendasari setiap metoda yang baik. Jika anda belajar sampai paham betul menerapkannya, anda dijamin akan matang dalam menangani nas Kitab Suci. Jika anda mengabaikan salah satu azas atau keliru menerapkannya, tak ada metoda yang akan berhasil bagi anda.

Bukan saja azas-azas tersebut berlaku sama bagi setiap metoda, tetapi juga bagi setiap tingkat penelaahan, kepada setiap orang, secara pribadi atau berkelompok, dan kepada setiap bagian nas Kitab Suci. Dan satu-satunya alasan utama untuk belajar menguasai azas-azas adalah bahwa anda akan dituntun dengan pasti dan cepat menemukan lubuk hati Allah.

Bagaimana menelaah Alkitab untuk menemukan apa artinya, dan di balik halaman tercetak menemukan hati Allah? Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat! Setiap kali selalu mengacu pada kaidah penelaahan Alkitab yang dimaksud di atas, yang terdiri dari tiga azas. Azas pertama adalah menangkap dan memahami apa yang sebenarnya penulis katakan kepada pembacanya semula─ pertanyaannya: “Apa katanya?” “Apa artinya?”—diajukan pada tahap pengamatan. Azas kedua adalah bahwa pemahaman atau tafsiran tersebut haruslah sejalan dan selaras, tidak menyimpang atau sumbang dengan apa yang dikatakan di bagian lain Alkitab—pertanyaannya: “Apakah dia sejalan dan selaras?”—diajukan pada tahap pengamatan & penafsiran. Azas ketiga adalah bahwa anda sendiri pun harus sejalan dan selaras dengan Allah—pertanyaannya: “Apakah saya sejalan dan selaras?”— diajukan pada tahap penafsiran & penerapan.

2. Azas Pertama: “Apa Katanya?”
Hanya sedikit orang yang dengan hanya sekali baca saja mampu menangkap aliran pikiran dalam paragraf kompleks. Apalagi kebanyakan pembagian pasal dalam Alkitab ternyata tidak merefleksikan satuan-satuan pikiran seperti halnya dengan panjangnya. Dan dalam kebanyakan kitab terdapat aliran pikiran yang tak terputus mulai dari awal sampai akhir. Maka kita perlu membaca cermat berulang-ulang, terus menerus menanyakan diri pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan kita memahami apa yang kita baca.

Disiplin atau jurus ini disebut penelaahan induktif, dan tujuannya adalah membantu kita menjawab sepenuhnya atau selengkapnya pertanyaan, “Apa katanya?” Sekali gus pertanyaan ini juga akan menjawab pertanyaan, “Apa artinya?” Karena jika kita pasti bahwa kita tahu persis apa yang Alkitab sebenarnya katakan, maka kita pun tahu apa artinya. Karena Allah, Sang Penulis, sangat berkemauan mengatakan apa yang Ia maksud. Maka penafsiran Alkitab pada intinya mulai dan berakhir dengan pertanyaan, “Apa katanya?” Pertanyaan kedua dan ketiga, yaitu azas kedua dan ketiga, dimaksudkan untuk memperdalam dan menegaskan (atau membetulkan) jawaban kita kepada pertanyaan pertama.

Menjawab pertanyaan apa katanya dilakukan dengan menerapkan dua jurus tertib, yaitu tertib tanggap dan tertib pandang.


Tertib tanggap.  Tertib tanggap menjaga atau memaksa anda hanya menangkap atau menanggap apa yang ada di depan mata anda, tidak lebih tidak kurang, bukan apa yang ingin anda tangkap. Bergandengan tangan dengan ini tertib pandang membantu anda memahami sebaiknya arti harfiah dari apa yang dikatakan Alkitab, karena membantu menemukan apa yang penting/berarti.

Maka langkah utama pertama dalam memahami Alkitab adalah mengetahui bahwa anda tahu apa yang sebenarnya dikatakan. Jurus penelaahan yang efektif untuk membantu anda memenuhi jurus tertib tanggap dan nanti menentukan arti harfiah yang tepat dari apa yang anda baca, adalah penelaahan induktif yang dimaksud di atas.

Penelaahan induktif mencakup pembacaan berturut-turut pada tiga tingkat berbeda:
· a. Pembacaan sambil lalu, mencatat terutama hal-hal yang cenderung anda perhatikan secara pribadi pada pembacaan pertama--hasilnya bisa berbeda dari temuan orang lain.

· b. Penyelidikan, pada pembacaan ulang mencoba mencatat setiap hal yang penting atau menentukan yang dapat dikenal, dan menganalisa hubungan logis di antara hal-hal yang diamati. Kuncinya adalah kemampuan anda mengenal mana di antaranya adalah pengamatan yang benar-benar penting--kemungkinan besar hasilnya bisa sama dengan temuan orang lain.

· c. Penyamaan dengan penulis, seolah anda berusaha keras mengomunikasikan atau mengajarkan hal yang sama--berusaha memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya penulis coba nyatakan, dengan cara mengolah dan mencerna dalam hati dan pikiran semua fakta yang ditemukan pada kedua tingkat pertama; inilah tujuan akhir penelaahan induktif.

Setelah pembacaan sambil lalu selesai dan pengamatan awal dicatat, tantangan pada tingkat berikutnya adalah membuat setiap pengamatan penting yang dapat kita lakukan dari apa yang kita telaah. Cara paling efektif melakukan pengamatan-pengamatan tersebut adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat mengenai cuplikan nas atau perikop. Semua pertanyaan ini harus membantu menjawab pertanyaan dasar, “Apa katanya?”

Di antaranya: Siapa menulis kepada siapa? Jelaskah dinyatakannya tujuan penulisannya? Apakah kecenderungan emosional dari tulisan? Apakah berubah di tempat lain? Adakah struktur yang jelas nyata (bukan berdasarkan pembagian bab)? Apakah butir pokok utama? Apakah kesimpulannya? Apakah gerak nalar menuju kesimpulan? Apakah struktur logis dari kitab tersebut? Adakah agaknya klimaks tunggal atau titik balik dalam kitab tersebut? Adakah pengulangan gagasan, frasa atau kata tertentu? Kapan pertama kali terjadi, dan kapan terakhirnya? (Ini dapat memberi petunjuk kepada struktur). Apakah tema kitab? Apakah setiap kalimat menyumbang kepada tema, atau adakah bagian yang agaknya tak cocok? (Bagian yang agaknya tak cocok layak mendapat penelaahan khusus!). Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membantu membuat banyak pengamatan berguna, tetapi harus lanjut lagi menanyakan lebih spesifik berdasarkan pengamatan-pengamatan tersebut, jadi, pertanyaan, pengamatan, pertanyaan baru, terus berulang.
Penelaahan induktif telah memperkecil jurang antara apa yang tertulis dengan apa yang tertangkap. Tetapi masih ada hambatan lain, yaitu hambatan akibat penerjemahan dari bahasa asli penulisan ke bahasa yang dipakai membacanya. Selain perbedaan bahasa, juga ada perbedaan budaya dan sejarah. Maka pakailah berbagai terjemahan Alkitab, kamus Alkitab, dan konkordans yang baik.

Tertib pandang. Penelaahan induktif bersama dengan alat-alat penerjemahan, kamus Alkitab dan konkordans yang diperlukan, memungkinkan kita menentukan arti harfiah yang tepat dari apa yang Alkitab katakan. Lalu bergandengan tangan dengan tertib tanggap adalah tertib pandang. Jurus tertib ini membantu kita sebaiknya memahami arti harfiah yang Alkitab katakan.

Tertib pandang mencakup unsur-unsur:
· a. Mempercayai Alkitab apa adanya; bandingkan Yohanes 3:12,
“Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?”
Kadang-kadang sulit bagi kita mengukur dalamnya kenyataan di seberang dunia alami. Tetapi ada kenyataan rohani, kerajaan Allah yang Yesus katakan “sudah dekat padamu” (Luk. 10:9)
dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
--maka gunakanlah pikiran bersama roh anda untuk memahami hal rohani dalam menemukan kebenaran dan menempatkannya pada perspektif yang layak.

· b. Memusatkan perhatian dalam nas Kitab Suci pada kegiatan hati; pergumulan dalam hati seseorang adalah jauh lebih menentukan dari pada keadaan yang menjadi penyebab kemelutnya. Contoh ketika Daud bersembunyi dalam gua dan Daniel berada dalam kandang singa, keduanya betul-betul tak berdaya dan hanya berseru kepada Tuhan untuk menyelamatkannya--dengan memusatkan perhatian pada pergumulan hati manusia, maka kita dapat mengikuti sedekatnya penyataan Allah dalam Alkitab, dan dengan demikian akan terungkap pula hati Allah.

· c. Mengenal lingkungan akrab si penulis: geografi, politik, dan kebiasaan setempat--rujuklah pada peta/atlas Alkitab.

· d. Menangani sesuai hakikatnya tulisan perlambangan (simbolis), 1) perumpamaan/amsal, 2) kiasan atau alegori hidup, dan 3) penglihatan nubuatan--pernyataan kebenaran yang ada dalam daerah jangkauan rohaniah yang tak mudah atau tak ingin dinyatakan dalam istilah alamiah; contoh:

1) perumpamaan/amsal: Matius 13:24-30, 36-43
24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."
36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." 37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; 38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. 39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. 40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. 41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
(perumpamaan tentang lalang di antara gandum), yang penting di sini adalah interpretasinya, sedangkan ceriteranya sendiri bisa saja fiksi;

2) kiasan atau alegori hidup: Galatia 4:22-26, 29-5:1
22 Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? 23 Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. 24 Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar--25 Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab--dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. 26 Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.
29 Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini. 30 Tetapi apa kata nas Kitab Suci? "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu." 31 Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka. 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
(kiasan/alegori hidup yang membedakan Hagar dan Sara), ceriteranya faktual tetapi mempunyai arti simbolik/perlambangan (Hagar melambangkan hukum Perjanjian Lama, Sara melambangkan Perjanjian Baru;

3) penglihatan nubuatan: Wahyu 1:12-17
12 Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. 13 Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. 14 Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. 15 Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah. 16 Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. 17 Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
(penglihatan nubuatan yang menunjuk pada Yesus dan ke tujuh jemaat), di sini kode-kode simbolik digunakan untuk menggambarkan hal-hal surgawi, karena tak dapat dinyatakan dengan hal-hal duniawi.

Ke dua jurus tertib tanggap dan tertib pandang tersebut sangat membantu menemukan jawaban atas pertanyaan dasar, “Apa katanya?” yang sekali gus akan menjawab “Apa artinya?” Tetapi jawaban yang diperoleh disini masih harus lulus ujian berikut dengan ujian azas kedua dan ketiga.
IMS 100817