Friday, October 8, 2010

V. CARA MENELAAH ALKITAB—PA Kelompok (2)

III. Prosedur Kerja Pertemuan PA-Kelompok

Persekutuan dalam pertemuan PA-Kelompok adalah berupa diskusi penelaahan Alkitab, yang berlangsung dalam bentuk tanya jawab. Pemimpin Kelompok bertanya, anggota menjawab. Pemimpin mengajukan serentetan pertanyaan yang akan menjurus kepada kesimpulan akhir kelompok. Masing-masing anggota mencoba menjawab. Pemimpin akan terus bertanya sekitar setiap pertanyaan pokok sampai dicapai kesepakatan kelompok, baik sepakat untuk sependapat maupun sepakat untuk berbeda pendapat. Pemimpin sedapat-dapatnya tidak memberikan uraian penjelasan. Pemimpin sebaiknya balik bertanya kepada kelompok untuk menjawab pertanyaan yang timbul dari antara anggota kelompok.

Maka setiap pertemuan PA-Kelompok selalu telah didahului sebelumnya dengan PA-Pribadi (secara mandiri sendiri-sendiri) oleh masing-masing anggota dan pemimpin kelompok:

· Anggota:

o menyiapkan diri semampunya dengan PA-Pribadi untuk dapat turut aktif dalam diskusi PA (namun ketidakmampuan ber-PA-Pribadi tidak menghalanginya turut pertemuan PA-Kelompok!).

o mencoba menemukan sendiri kebenaran yang mau diterapkan secara pribadi, lalu membandingkannya dengan temuan kawan-kawan dalam PA-Kelompok yang akan datang.

· Pemimpin:

o menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk pertemuan PA-Kelompok yang akan datang.

o merenungkan kesimpulan kebenaran untuk penerapan.

Tentu saja nas perikop dalam PA-Pribadi tersebut di atas adalah nas yang sama untuk PA-Kelompok yang akan datang.

Pertanyaan yang baik adalah kunci yang membuka arti Alkitab. Dalam cara induktif pemimpin kelompok menyediakan pertanyaan-pertanyaan untuk melalui ke tiga tahap dasar (pengamatan¾penafsiran¾ penerapan) berdasarkan ke tiga asas penelaahan Alkitab. Tujuannya adalah supaya dalam membahas pertanyaan-pertanyaan ini, tiap anggota akan menemukan sendiri jawabannya. Kalau kita sendiri menemukan sesuatu, kita akan mengingatnya jauh lebih lama dari pada kalau orang lain mengatakannya pada kita.

Maka pemimpin mengikutkan semua anggota secara aktif. Pemimpin tidak mengemukakan jawaban-jawaban tetapi mengajukan pertanyaan. Jawaban ditemukan oleh kelompok berdasarkan fakta-fakta dalam bagian Alkitab yang sedang ditelaah.

1. Acara Pertemuan PA-Kelompok

Susunan acara dibawah ini diberikan hanya untuk memberikan gambaran:

1. Bernyanyi (2,5 menit)

2. Berdoa (2,5 menit)

3. Diskusi (45 menit)

4. Perenungan & Keputusan Penerapan Pribadi (5 menit)

5. Berdoa (2,5 menit)

6. Bernyanyi (2,5 menit)

Jadi, pertemuan cukup 60 menit; kelompok pemula mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk diskusi. Setelah itu dapat lanjut dengan ramah tamah bebas kalau ada waktu; hal-hal khusus seperti misalnya partisipasi dalam kegiatan tertentu dalam Jemaat, baik perorangan maupun secara kelompok, dapat disampaikan atau dibicarakan disini. Sharing atau berbagi beban/ pengalaman kalau ada biarlah terjadi secara alamiah, dengan tulus dan rendah hati, menuruti arahan dan dorongan Roh Kudus. Bisa ditengah-tengah acara diskusi atau menjadi bagian acara perenungan, ataupun dalam ramah tamah bebas, menurut relevansinya.

2. Peran Pemimpin Kelompok

Memimpin suatu kelompok PA adalah suatu kehormatan. Syarat utama adalah hubungan pribadi yang baik dengan Allah. Waktu berdoa dan saat teduh tiap hari harus teratur. Hanya dengan pimpinan Roh Kudus dapatlah kita dipakai Allah sebagai pemimpin.

A. Membentuk suatu kelompok

Mulailah dengan berdoa. Doa dan ketergantungan pada Tuhan diperlukan untuk membentuk suatu kelompok. Khususnya, doakanlah hal-hal berikut: siapa yang dapat diajak, di mana dan bilamana pertemuan itu harus dilakukan.

Doa kita harus disokong dengan ketekunan dan kerja keras. Carilah kawan-kawan yang berminat dari antara sesama anggota Jemaat. Di luar itu juga bisa, karena apakah ia seorang Kristen atau bukan tidak menjadi soal. Satu-satunya syarat adalah keinginan untuk menemukan apa yang dikatakan Alkitab. Satu orang saja sudah cukup untuk memulai. Sepakati siapa menjadi pemimpin kelompok. Ajaklah mereka jauh hari sebelumnya, jangan baru setengah jam sebelum pertemuan dimulai! Tetapi ingatkanlah mereka lagi sebelum pertemuan.

Carilah waktu yang paling cocok bagi semua anggota. Tentukan lamanya tiap pertemuan. Ini diberitahukan sebelumnya dan ditaati pada pertemuan. Tiga puluh atau 45 menit biasanya cukup, lebih dari satu jam tidak bijaksana. Lebih baik diakhiri selama anggotanya masih tertarik daripada sesudah jemu dan lelah. Reaksi mereka akan terlihat pada pertemuan berikutnya: apakah mereka hadir lagi?

B. Selama pertemuan

Sikap pemimpin adalah faktor utama yang menentukan suasana pertemuan. Ketaatannya pada Firman Allah, keterbukaannya pada para hadirin, sikap santai atau relax dan menikmati penyelidikan itu, semua itu akan menular!

Mulailah tepat pada waktunya. Perkenalkan semua orang. Dalam mengarahkan pertanyaan, sebutlah nama orang itu.

Sediakanlah beberapa Alkitab bagi mereka yang tidak membawanya. Sebutkan pada halaman berapa bagian itu terdapat, kemudian bacalah bagian itu. Ada beberapa kemungkinan, masing-masing membaca dalam hatinya sambil memperhatikan hal-hal penting yang disebutkan pemimpin sebelumnya, atau minta seorang yang pandai membaca untuk membaca keseluruhannya. Atau dua atau tiga orang (tidak lebih) membaca keseluruhannya; membaca bergiliran ayat demi ayat mengganggu konsentrasi. Atau orang tertentu membacakan bagian tokoh tertentu (ucapannya) dan lainya bagian narasi.

Janganlah berbicara terus menerus, menjawab pertanyaan sendiri, menerangkan bila anda masih dapat menanyakan, berkeras kepala, berpegang pada pengalaman atau pendapat pribadi, puas dengan jawaban pertama yang diberikan, takut akan perbedaan pendapat, dan terlebih lagi jangan menyimpang dari pokok pembicaraan.

Berikan waktu berpikir, berikan kebebasan berbicara dan bertanya, berikan tanggapan anda dengan komentar yang positif sewajarnya, anjurkan suasana jujur dan terbuka, dan peganglah pada Alkitab sebagai kekuasaan mutlak.

Perhatikanlah waktu. Segera setelah sebuah pertanyaan dijawab dengan memuaskan, lanjutkanlah. Taksir sebelumnya ancer-ancer waktu untuk setiap pertanyaan.

Akhiri dengan doa pada waktunya. Pada akhir pertemuan berilah ringkasan pendek. Kemudian berikan waktu 1-2 menit supaya tiap orang merenungkan penerapannya dalam hidupnya. Akhirnya, biarlah peserta berdoa berdasarkan apa apa yang baru dipelajari. Akhiri pada waktunya.

Ingatlah, sesudah pertemuan tiap orang akan paling mengingat apa yang ia sendiri katakan dan pikirkan. Jadi, bantulah mereka menemukan sendiri sebanyak mungkin kebenaran-kebenaran dari Alkitab melalui pertanyaan-pertanyaan yang baik. Tugas anda sebagai pemimpin bukan memberi jawaban. Kalau perlu anda dapat menambahkan atau mengoreksi sesudahnya.

Binalah seorang aisten dari antara anggota kelompok, latihlah agar pada waktunya kelak dapat memimpin kelompok sendiri.

C. Persoalan yang mungkin timbul

Anggota yang selalu mengajukan komentar yang tak relevan. Anjurkan dia untuk mengambil pendapatnya dari bagian yang sedang diselidiki.

Anggota masih baru atau malu anjurkan secara halus agar mereka berpartisipasi. Misalnya dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan mudah atau menyuruh membaca dari Alkitab, hargai setiap usaha mereka, usahakanlah ia merasa diterima.

Anggota yang senang berbicara. Arahkanlah pertanyaan-pertanyaan pada orang lain dengan menyebutkan nama mereka.

Anggota yang berpengetahuan luas. Terlalu banyak mengutip bagian-bagian Alkitab lainnya. Tunjukkanlah padanya bahwa lebih baik konsentrasi pada satu bagian, ayat-ayat lain atau rujukan silang hanya berguna untuk menjelaskan suatu kesukaran.

Anggota yang selalu ingin menyimpang dari pokok pembicaraan. Usulkan pada dia untuk membahas topik lain sesudah pertemuan, kalau memang dianggap penting. Selama pertemuan bahaslah apa yang sudah ditentukan.

Kesukaran-kesukaran seperti asal kata, adat kebiasaan dan sebagainya boleh ditanyakan pada orang lain dan dilaporkan kembali pada pertemuan berikutnya. Jangan malu mengaku “Saya tidak tahu”.

Termasuk tugas seorang pemimpin adalah mempercayakan apa yang telah didengarnya pada orang-orang yang dapat dipercaya yang juga cakap mengajar

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2Tim 2:2).

Maka kalau kelompok sudah bertambah besar, sediakanlah waktu khusus untuk “kelompok inti” supaya merekapun kelak dapat memimpin kelompoknya masing-masing. Jika kelompok telah mencapai 12-14 anggota, bagilah menjadi dua kelompok.

Lakukan evaluasi bersama secara berkala kemajuan kehidupan Kelompok, khususnya perkembangan iman para anggota. Berdoalah dan mohon agar Tuhan menunjukkan perbaikan-perbaikan apa yang dapat diadakan. Bersikaplah terbuka, tanggapi positif kritik.

100924

Thursday, October 7, 2010

V. CARA MENELAAH ALKITAB—PA Kelompok (1)

“Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, Firman-Mu tetap teguh di sorga” (Maz. 119:89)

Perkembangan pesat jemaat-jemaat Kristen di Korea Selatan adalah melalui menjamurnya kelompok-kelompok kecil persekutuan Kristiani, termasuk kelompok PA, bagaikan sel-sel yang bertumbuh dan setiap kali terus membelah diri. Kelompok PA bukan saja berguna untuk mendewasakan iman anggota jemaat, tetapi juga dapat memperkenalkan Kristus bagi orang-orang (teman, kerabat, tetangga dan lain lain) yang belum atau baru menjadi Kristen.

I. Mengapa Berkelompok?

Bukankah lebih mudah kalau kita pelajari Alkitab secara pribadi di rumah? Memang benar bahwa PA-Pribadi di rumah masing-masing sangat berguna dan lebih mudah dilakukan. Tetapi tujuan PA-Kelompok bukan untuk menggantikan PA-Pribadi, melainkan untuk melengkapinya. Melalui PA-Kelompok kita dapat memperoleh beberapa keuntungan yang tidak dapat diperoleh dalam PA-Pribadi.

PA-Kelompok memberikan kita kebiasaan untuk menelaah Alkitab secara teratur dan sistimatis. Disiplin ini membantu kita dalam PA-Pribadi, membantu rasa percaya diri untuk bebas membicarakan Alkitab tanpa disertai rasa malu dan takut dikritik.

Dengan menelaah bersama-sama kita akan mengetahui apakah tafsiran kita mengenai bagian itu benar atau salah; diskusi dalam kelompok memungkinkan kita melampaui batas-batas pemahaman sendiri dengan menunjuk pada ide-ide yang lain dengan merangsang pemikiran lebih lanjut. Kalau tafsiran kita salah, anggota lain akan mengoreksi. Tuhan sering memakai saudara-saudara Kristen untuk mengoreksi kita.

Pertimbangan bersama mengenai penerapan, termasuk yang diperoleh dari PA-Pribadi, akan menunjukkan segi-segi mana dalam hidup kita masih perlu diubah.

Melalui diskusi bersama kita akan lebih mengenal kawan-kawan kita. Hubungan terbuka itu, yang menciptakan suasana penuh kasih dan saling menerima, mendorong kita dengan jujur berbagi pengalaman, masalah, dan berbagai kebutuhan pribadi untuk saling mendoakan dan saling membantu pertumbuhan rohani.

Diskusi bersama juga membiasakan kita untuk berbicara mengenai apa yang dikatakan Alkitab. Ini membiasakan kita untuk menceriterakan pada orang lain mengenai arti Kristus bagi kita.

Setelah mengikuti PA-Kelompok beberapa waktu kita tidak lagi cepat-cepat menarik kesimpulan mengenai arti dan penerapan sebuah ayat, sebelum menyelidiki dulu arti dan penerapannya. Kita akan menyelidiki dulu dengan seksama dan teratur. Kebiasaan ini akan tinggal seumur hidup dan mungkin merupakan hasil yang paling berharga dari pertemuan-pertemuan demikian.

II. Peraturan Dasar

Setiap kegiatan bersama akan lebih berhasil kalau setiap anggota mempunyai tujuan sama dan menaati peraturan-peraturan. Pelaksanaannya akan menentukan apakah kelompok PA bermanfaat serta berkembang atau membosankan dan lama-lama mati.

Alkitab adalah texbook kita. Kita bertemu bukan untuk mengemukakan pendapat pribadi, pendapat pendeta atau buku. Tujuan pertemuan adalah menemukan apa yang dikatakan oleh Alkitab itu sendiri kepada kita masing-masing.

Bahaslah bagian yang ditentukan. Latar belakang memang berguna. Tetapi janganlah sampai menjadi suatu kontes mengadu luasnya pengetahuan seseorang. Seorang yang belum pernah membaca Alkitab dan peserta-peserta baru harus dapat mengikuti pembicaraan kelompok kita. Batasilah pembicaraan tentang latar belakang atau ayat-ayat bandingan (rujukan silang). Curahkanlah perhatian penuh pada bagian yang sedang ditelaah itu.

Hati terbuka. Orang-orang Yahudi di Berea yang diceriterakan dalam Kisah Para Rasul 17:10-12

“Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi. Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani” (Kis 17:10-12).

memberikan contoh tentang sikap belajar yang benar. Mereka mempunyai hati terbuka untuk memperhatikan sesuatu yang baru, kerelaan hati untuk menerima Firman Allah, dan kemauan yang rajin untuk menyelidiki Firman Allah.

Usahakanlah supaya tiap orang merasa itu kelompoknya. Kalau ini dicapai, maka komentar-komentar akan lebih jujur dan berguna, persiapan pribadi sebelum datang akan lebih baik, mereka akan berusaha membawa kawan-kawan lain, dan mereka akan terus mendoakan kelompok itu.

Jangan biarkan kelompok itu menjadi terlalu besar. Ini bukan berarti jangan mengajak orang-orang lain! Kelompok PA yang ideal mempunyai 6-8 anggota. Kalau kelompoknya terlalu besar, maka partisipasi para anggota akan berkurang. Apalagi pada umumnya orang malu untuk berbicara atau bertanya di depan umum.

Kalau yang hadir terus menerus melebihi 12 orang, sebaiknya kelompok itu dibagi dua. Pembagian ini harus didoakan dan direncanakan dengan baik. Pemimpin-pemimpin lain harus dilatih sebelumnya. Waktu yang paling tepat harus dipikirkan. Kedua kelompok masih dapat bertemu dalam ruangan yang sama dan mengadakan acara pembukaan dan penutupan bersama.

Biarlah tiap orang mengikuti kelompok tertentu secara tetap. Ini juga mempermudah saling pengertian dan pengenalan. Kelompok kecil lebih efektif, tetapi ingatlah: Kelompok yang dipimpin dengan baik selalu berkembang!

IMS 100924

PA PRIBADI (20)

1 Timotius 4:13-16                  Epistel Minggu 10 Oktober 2010

JADILAH GEMBALA YANG BAIK
(Yoh 10:11, 14; Ef 4:11)

13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

13 bertekunlah = devote; 16 bertekunlah = persevere; 15 perhatikanlah = be diligent'; 15 hiduplah di dalamnya = give yourself wholly

13 Sementara itu, sampai saya datang nanti, engkau harus bersungguh-sungguh membacakan Alkitab kepada orang-orang, dan mendorong serta mengajar mereka. 14 Janganlah engkau lalai memakai karunia dari Roh Allah yang diberikan kepadamu pada waktu pemimpin-pemimpin jemaat meletakkan tangan mereka di atas kepalamu, dan nabi-nabi menyampaikan pesan Allah mengenai dirimu. 15 Kerjakanlah semuanya itu dengan bersungguh-sungguh supaya kemajuanmu dilihat oleh semua orang. 16 Awasilah dirimu dan awasilah juga pengajaranmu. Hendaklah engkau setia melakukan semuanya itu, sebab dengan demikian engkau akan menyelamatkan baik dirimu sendiri maupun orang-orang yang mendengarmu.

Tentang: penggembalaan

Jadilah Gembala yang Baik
(13-16)

Tokoh: Paulus, Timotius

Tempat/waktu: awal penugasan Timotius muda sebagai gembala Jemaat di Efesus; l.k. A.D. 64.

Proporsi: ketekunan dalam menjalankan karunia dalam penggembalaan jemaat

Bentuk sastra: surat nasihat/pribadi

Pokok bahasan: bagaimana menjadi gembala yang berhasil walau usia masih muda

Ringkasan isi:
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu dalam segala aspek penggembalaan jemaat, yang dipercayakan padamu, dengan penuh ketekunan (13-16):

  • Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, bertekunlah dalam membangun dan bertekunlah dalam mengajar (13)
  • Perhatikanlah semuanya itu dalam menjalankan karunia yang ada padamu, hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata bagi semua orang (14-15).
  • Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu; bertekunlah dalam semuanya itu (16).

Ayat kunci utama: 1 Tim 4:16
Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Pokok pikiran/tema utama:

Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan bagi semua orang.

Istilah penting: bertekunlah, membaca, membangun, mengajar, karunia (rohani)

Ciri khas: --

Hubungan struktural utama: generalisasi—Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar (13). Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu (14). Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya, kemajuanmu nyata bagi  semua orang (15).  Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (16).

Ayat paralel:
ay 14: 1 Tim 1:18  Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.

Ayat Konteks:
Konteks dekat:
1 Tim 4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. --- teladan . . . Tit 2:7  dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu; --- kesetiaanmu . . . 1 Tim 1:14  Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

ay 13 sampai aku datang . . . 1 Tim 3:14  Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau.
membaca . . . 2 Tim 3:15ff  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. 16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Yoh 10:11, 14  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya. 14 Akulah gembala yang baik. Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, begitu juga Aku mengenal domba-domba-Ku dan mereka pun mengenal Aku. Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk mereka.

Ef 4:11 Ialah yang "memberi pemberian-pemberian kepada manusia"; sebagian diangkat-Nya menjadi rasul, yang lain menjadi nabi; yang lain lagi menjadi pemberita Kabar Baik itu, dan yang lain pula diangkat-Nya menjadi guru-guru dan pemelihara jemaat.

Gifts, Spiritual
Listed and explained … Rom 12:6-8   Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita;

1 Kor 12:4-30   Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 5  Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10  Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. 11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. 12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. 13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. 15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? 18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? 20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. 21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. 23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. 24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, 25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. 27  Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. 29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Perseverance—steadfastness, persistence
Elements involved in:
Spiritual growth … Ef 4:15  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Fruitfulness … Yoh 15:4-8  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."

God’s armor … Ef 6:11-18  Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Discipline … Ibr 12:5-13   Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." 7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? 8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. 9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? 10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. 11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. 12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 12  dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Assurance … 2 Tim 1:12  Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Salvation … Mat 10:22  Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Reward … Gal 6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Penyataan Kristus:

PENAFSIRAN
Hal-hal utama
:
a. Istilah utama: bertekunlah
b. Hubungan utama: generalisasi—Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar (13). Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu (14). Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya (15).  Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu (16).
      -- Aspek utama: mempergunakan karunia
c. Tema utama/pokok pikiran utama:
Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan dalam segala hal.

Tanya jawab penafsiran:
Definisi
1) Apakah yang dimaksud dengan bertekun?
     -- dengan penuh perhatian mengerjakan sesuatu
     -- teguh berpegang kepada kebenaran dalam kasih Kristus (Ef 4:15)
     -- tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak (Yoh 15:5)
     -- dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (Ef 6:11-18)
     -- tidak putus asa jika harus menanggung ganjaran; (Ibr 12:5-7)
     -- orang yang bertahan dalam nama Yesus sampai pada kesudahannya akan selamat (Mat 10:22)
     -- tidak jemu-jemu berbuat baik, akan menuai (Gal 6:9)

2) Apakah yang dimaksud dengan karunia dan mempergunakan karunia? 
     -- kemampuan atau kuasa berbuat sesuatu yang baik bagi orang lain
     -- karunia adalah yang dianugerahkan Allah menurut kasih karunia-Nya bagi masing-masing orang percaya (Rom 12:6-8)
     -- karunia bernubuat, melayani, mengajar, menasehati 
     -- membagi-bagikan sesuatu dengan hati yang ikhlas; memberi pimpinan dengan rajin; menunjukkan kemurahan dengan sukacita;
     -- Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama: menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh. berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh itu. (1 Kor 12:7, 10)

Alasan
3)Kenapa harus bertekun? 
     -- supaya berhasil baik, mencapai sasaran atau tujuan
     -- 

4) Kenapa perlu atau harus mempergunakan karunia?
     -- karunia adalah anugerah khusus dari Allah untuk kepentingan bersama
     -- tidak seharusnya diabaikan atau dilalaikan

Cara
5) Bagaimana bisa bertekun?
     -- minta tuntunan Roh Kudus
     -- fokus pada hasil akhir
6) Bagaimana mempergunakan karunia?
     -- dengan penuh percaya diri akan tuntunan Roh Kudus
     -- dengan ketekunan penuh
     -- bukan untuk kepentingan atau demi nama baik pribadi
     -- dengan rendah hati, taat azas

Implikasi
7) Apa yang tersirat dari kewajiban bertekun dalam menjalankan sesuatu tugas terkait penggembalaan? 
     -- menjadi gembala yang baik
     -- memperhatikan dengan benar kebutuhan rohani dan diakoni setiap dombanya
     -- setiap anggota jemaat pun wajib tekun membaca firman sendiri-sendiri maupun di hadapan “jemaatnya” serumah tangga, abang beradik saudara kandung maupu lingkungan lebih luas

8) Apa yang tersirat dari kehaharusan mempergunakan karunia dalam menjalankan tugas penggembalaan?
     -- setiap anggota jemaat juga mempunyai karunia masing-masing yang Roh anugerahkan padanya, setiap kali ada kesempatan terbuka, di manapun itu terjadi, demi kepentingan bersama.      -- 

Kesimpulan:
1. Setiap pemimpin jemaat ataupun gereja wajib memelihara ketekunan dalam setiap aspek penggembalaannya, apakah itu membaca firman, membangun, mengajar, atau apa sajapun itu.
2. Ia tak boleh lalai mempergunakan karunianya, karena Tuhanlah yang menganugerahkan kepadanya, demi kesatuan gereja-Nya.
3. Setiap orang percaya pada hakekatnya adalah juga pemimpin jemaat atau gembala di lingkungan masing-masing, mulai dari rumah tangga sampai lingkungan lebih luas, termasuk pemimpin sipil dan militer dari yang terendah sampai tertinggi.
4. Semuanya itu dilakukan demi kepentingan bersama; nasihat Paulus kepada Timotiu juga berlaku sama bagi para pemimpin tersebut.

Pesan:
Sebagai gembala (pemimpin) jemaat, hendaklah jalan hidupmu sesuai dengan ajaranmu, jalankan karunia rohani penggembalaanmu dengan penuh ketekunan dalam segala aspeknya, menjadi teladan bagi semua orang.

PENERAPAN
Evaluasi
: Nasihat Paulus kepada Timotius juga berlaku bagi setiap pemimpin lain.

Butir-butir penerapan:
1. Tekun membaca dan merenungkan firman setiap hari dan langsung mengadaptasi dalam hidup sehari-hari dengan tuntunan Roh Kudus.
2. Mempergunakan karunia yang Tuhan anugerahkan demi melayani sesama, kapan saja, di mana saja dengan sepenuh hati.

Tekad/Tujuan: 
Setiap kali minta tuntunan Roh Kudus dalam setiap hal pelayanan dan penggembalaan.

Ayat hapalan:

1 Timotius 4:16 “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”

DISKUSI PA

1. Menjelang kunjungannya ke Efesus, Paulus menulis surat kepada Timotius muda, anak asuh kesayangannya, teman sekerjanya, yang diberi tugas mempimpin jemaat Efesus, yang Paulus baru dirikan, yang sedang disusupi pengajaran sesat, sejumlah nasihat penting bagi seorang gembala jemaat, demi menjaga wibawanya dan menjaga kepercayaan dari jemaatnya, terlebih karena ia masih muda. a) Pada intinya apakah isi nasihatnya tersebut? b) Bagaimana ia harus melaksanakan atau mencapainya menurut Paulus? c) Dengan demikian apakah yang bakal diperolehnya dari jemaatnya (perhatikan usianya yang masih muda)?

2. Bagaimanakah menjalankan ketekunan seperti yang Paulus maksudkan tersebut dalam hidup seseorang percaya, baik sebagai pemimpin jemaat atau gereja ataupun di lingkungan lain termasuk rumah tangganya? Baca: Ef 4:15, Yoh 15:5, Ef 6:11-18, Ibr 12:5-7, Mat 10:22, Gal 6:9.

3. Nasihat Paulus supaya tidak lalai mempergunakan karunia yang ada padanya bukan saja ditujukan bagi Timotius, tetapi juga berlaku bagi setiap pemimpin, gembala, dan pelayan atau penatua dalam gereja Tuhan, di manapun, kapanpun. Bahkan juga setiap orang percaya, yang sedikit banyaknya juga telah menerima anugerah karunia dari Tuhan, yang ia juga tidak boleh lalai mempergunakannya, karena pada saatnya ia juga bisa atau akan menjadi pemimpin “jemaat” atau serupa itu di lingkungannya di tengah rumah tangganya, keluarga besarnya dan lain-lain, bahkan menjadi pemimpin sipil maupun militer negara. a) Apakah yang dimaksud dengan karunia dan mempergunakan karunia? b)Kenapa ia tidak boleh lalai? c) Bagaimana ia harus melaksanakannya? Baca: Rom 12:6-8, 1 Kor 12:7, 10)

IMS 101005

Friday, September 24, 2010

IV. CARA MENELAAH ALKITAB--PA Pribadi (4)

C. Penerapan

Penerapan adalah menerima secara pribadi kebenaran yang baru dipelajari dan melakukannya. Penerapan adalah melaksanakan dalam praktek apa yang telah kita ketahui 
“Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mar 4:24);
“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” (Ibr 5:14)
dan menjawab pertanyaan, “Lalu apa?” dengan menantang kita dengan pertanyaan-pertanyaan tepat dan memotivasi kita mengambil tindakan,
“Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:5, 6);
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17).
Penerapannya adalah sepenuhnya pribadi--unik bagi setiap pribadi. Adalah membuat kebenaran relevan menjadi kebenaran pribadi, dan melibatkan pengembangan strategi dan rencana tindakan menjalani hidup anda selaras dengan Alkitab, suatu penuntun tentang “bagaimana melakukan” yang alkitabiah dari hidup. Menanggapi pesan dari apa yang tertulis pada halaman-halaman Alkitab sedemikian rupa, sehingga beban hati Allah dapat dialami sendiri dan menularkannya pada orang lain.

Renungkanlah bagian itu dalam doa sampai Roh Kudus menunjukkan anda cara menerapkan kebenarannya kepada hidup anda sendiri dalam cara pribadi, praktis, mungkin, dan dapat diukur. Alkitab diberikan kepada kita untuk menunjukkan bagaimana kita harus menjalani hidup mengikuti jalan-Nya di dunia ini. Untuk mengubah hidup kita menjadi serupa hidup Yesus Kristus.

Tujuan PA yang baik adalah mengubah manusia dengan kuasa Firman dan Roh Allah. Ini menjawab pertanyaan dasar kedua, ”Apa, jika ada, urusannya atau kaitannya dengan kita dan dunia kita?” Menemukan apa arti sesuatu nas (penafsiran) dan menjalankannya dalam hidup (penerapan) adalah dua proses berbeda, walaupun berhubungan, yang harus mendapat perhatian cukup yang sama dan seimbang.
Harus diingat bahwa berbagai cuplikan nas dalam Alkitab berlaku dalam jaman sekarang dalam berbagai cara, tidak dapat diterapkan begitu saja tanpa pemikiran lebih lanjut. Maka evaluasi bagaimana nas tertentu dihubungkan dengan lingkungan kita yang paling sedikit terpaut 20 abad dari budaya dan penulisan aslinya.

Berikut ini beberapa penuntun evaluasi:

1. Jaga ceriteranya lurus seadanya. Allah mengajar umat-Nya langkah demi langkah sesuai kemampuannya memahami kebenaran-Nya. Maka ingat nas yang ditelaah (terlebih dari Perjanjian Lama) belum tentu mengandung kata akhir Allah tentang pokok pesan dalamnya, lihat adanya kemungkinan bahwa telah direvisi atau bahkan dibatalkan oleh penyataan yang datang kemudian. Untuk menjaga ceritera wahyu alkitabiah lurus seadanya tidaklah perlu menguasai semua secara terinci sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Mulailah mempelajari masa-masa utama sejarah alkitabih dan abad atau dekade masing-masing. Buat peta kronologi dan catat kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh penting. Beri perhatian khusus korelasi tulisan para nabi dan rasul dengan setting dalam tulisan bersejarah dari Testamen (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru); penting dalam hal ini kitab Raja-raja dan Kisah Rasul. Misalnya tempatkan Amos dalam dekade akhir kerajaan Utara dan 1 Korintus dalam terang setting yang terdapat dalam Kisah 18.

2. Pisah yang lokal dari yang universal. Pisah yang mempunyai arti lokal yang terbatas pentingnya dalam sejarah dari yang mempunyai arti universal dengan menyelami dibawah permukaan kepada prinsip yang dinyatakan dalam nas yang bersangkutan. Contoh prinsip-prinsip yang mendasar dalam iman alkitabiah, yang dari struktur nyata kitab yang bersangkutan dan penekanan pernyataan yang telah dinyatakan dengan jelas dari penulis yang bersangkutan, adalah perlakuan-perlakuan dari kehendak tertinggi Allah untuk kemanusiaan atau ketentuan hidup dalam Kerajaan Allah, a.l.: Matius 5-7, Roma 12-24, 1 Korintus 13, Efesus 4:1-16, Kolose 3:12ff, Filipi 2, dan lain-lain. Dalam mengevaluasi nas dan tafsirannya kita harus:

· pilih yang pribadi di atas yang mekanikal,
· pilih kebebasan di atas keabsahan (legalism),
· pilih iman di atas perbuatan,
· pilih kasih di atas segala lainnya.

Tolak tafsiran yang menyarankan kekudusan yang tak mengasihi, tolak ajaran yang membuat hidup dengan Allah lebih bersifat mekanikal daripada pribadi, dan lain-lain yang tidak mencerminkan kepedulian mendasar alkitabiah.

3. Biarkan Yesus menjadi hakim. Dalam menentukan apakah sesuatu tindakan atau sikap yang dianjurkan nas tertentu mau diterapkan atau tidak dalam hidup orang Kristen, evaluasi dengan standar hidup Yesus dan Firman. Prinsip ini didukung oleh dua hal.

Pertama, Yesus jelas menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dari semua pewahyuan; misalnya Ia secara berwibawa merevisi yang difirmankan melalui Musa (Markus 10:4 dst, Mat 5:21-48).
“Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu  Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mar 10:4-12) dst.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:21-24), dst. Mat 5:25-48.
Kedua, para rasul jelas menulis mengambil Yesus sebagai norma hidup dalam Kerajaan (misalnya Filipi 2)--bandingkan juga Maz. 139:21-22
“Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku” (Maz 139:21-22),
mengenai”membenci” dengan ajaran Yesus dan rasul dalam Matius 5 dan Roma 12. Mengenal perbaharuan yang difirmankan seperti contoh tersebut harus menjadi perhatian kita dalam memutuskan bagaimana menerapkan Firman dalam hidup kita. Biarkan Yesus menjadi hakim.

Hubungkan juga dengan ayat-ayat bandingan (rujukan) silang untuk ayat-ayat unit telaahan anda untuk menjelaskan lebih lanjut arti dari teks. Cari lebih dahulu dalam kitab yang sama, yaitu hubungan di dalam. Kemudian bandingkan dengan pernyataan dalam tulisan lain dari penulis yang sama, hubungan luar. Lalu dengan kitab lain dari Perjanjian yang sama, terakhir bandingkan rujukan dalam keseluruhan Alkitab. Gunakan Alkitab yang dilengkapi rujukan, atau konkordans, lihat kata-kata yang sama. Ayat-ayat rujukan atau bandingan tersebut bisa berupa ayat paralel, ilustratif, atau bertentangan (sepertinya ada kontradiksi, tetapi sebenarnya pendekatan dari sudut pandang lain). Tetapi ingat memeriksa dulu konteks dari ayat bandingan yang bersangkutan, supaya jangan keliru menafsir.

Terapkan terlebih dahulu prinsip-prinsip. Kenali prinsip-prinsip umum dan maknanya bagi hidup sekarang, baru periksa detailnya apakah dapat diberlakukan atau tidak untuk hidup sekarang. Dengan cara ini akan dapat ditemukan mana yang bersifat universal dan transkultural, mana yang lebih berlaku lokal pada budaya, waktu dan tempat di zaman itu. Kalaupun misalnya cara-cara ibadah yang disinggung dalam Matius 6 berbeda pelaksanaannya di tempat lain dengan budaya dan kebiasaan berbeda, namun prinsip umum yang diajarkan berlaku, yaitu bahwa ibadah kepada Allah dengan cara bagaimana pun harus dilakukan dengan tulus kepada Allah sendiri tanpa maksud untuk mengesankan orang atau Allah. Hanya ibadah sedemikian yang akan menerima upah.

Penerapannya hendaklah spesifik dan konkrit. Pemberlakuan prinsip umum tersebut dalam hidup kita haruslah diterapkan secara terinci sesuai budaya dan situasi kondisi setempat secara spesifik dan konkrit bersifat pribadi. Jika bingung mengetahui bagaimana mulai membawa kebenaran dari nas kepada keadaan sekarang, coba mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Dosa apa yang harus saya akui sehubungan dengan nas ini?
2. Penegasan apa yang harus saya berikan dalam terang Firman ini--penegasan tentang Allah, Kristus, diri saya, orang lain, dunia ini? Adakah perintah untuk ditaati? Adakah janji yang dapat dituntut? Adakah teladan untuk diikuti? Adakah alasan untuk mengucap syukur atau memuji Tuhan?
3. Bagaimana nas ini menegaskan sesuatu yang baik yang telah ada karena anugerah Allah dalam hidup saya?
4. Perubahan apa yang harus saya lakukan dalam investasi saya mengenai waktu, uang, energi, atau sumber daya pribadi sehubungan dengan kebenaran nas ini?
5. Doa apa yang harus saya doakan bagi saya atau keluarga saya atau teman saya atau musuh saya dalam terang apa yang saya lihat dalam Firman?

Bawakan dalam doa dan renungan.

Kalau Yesus benar-benar Tuhan kita maka tidak ada segi kehidupan kita yang luput dari penerapan Firman-Nya. Tugas kita sebagai pengikut-Nya adalah menerapkan seluruh Firman-Nya pada seluruh hidup kita.

Meskipun ada macam-macam cara atau metoda PA, namun ingatlah: di mata Tuhan bukan caranya yang penting tetapi orangnya. Cara yang baik dapat membantu seorang mengerti Alkitab. Tetapi hanya kalau ia datang dengan hati terbuka dan bersedia dipimpin oleh Roh Kudus. Seperti kata Martin Luther: ”Kita tidak dapat mengerti Alkitab hanya dengan kepandaian otak saja. Tugas pertama adalah berdoa. Mintalah pada Tuhan supaya dari kasih-Nya yang besar anda diberikan pengertian yang benar. Tidak ada yang dapat menguraikan Firman Allah lebih baik daripada Pengarangnya Sendiri”.
IMS 100924

Thursday, September 23, 2010

IV. CARA MENELAAH ALKITAB--PA Pribadi (3)

B. Penafsiran

Setelah menemukan hubungan struktural pada tahap pengamatan tersebut di atas, selidiki lebih lajut hubungan struktural yang ditemukan. Periksa dengan pertanyaan-pertanyaan yang terfokus pada strukturnya sendiri dan pada materi tertentu seperti disusun oleh penulis. Kenapa disusun demikian, apa maksudnya, dan lain-lain. Matius 5, misalnya, dibangun dengan struktur partikularisasi, dimulai dengan pernyataan umum Yesus (5:17-20) diikuti dengan enam pernyataan spesifik (5:21-48).
Apa sebenarnya arti pernyataan umum tentang penggenapan hukum Taurat
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)
dan kebenaran hidup keagamaan melebihi ahli Taurat dan Farisi?
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).
Apa arti dari partikularisasi yang bersangkutan¾marah terhadap saudara dan mengatakan “Kafir!” atau “Jahil!”
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:22),
memandang dengan penuh gairah
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28),
perceraian dan perzinahan
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah” (Mat 5:32),
sama sekali tidak bersumpah
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah” (Mat 5:34),
tidak melawan kejahatan,
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39).
dan mengasihi musuhmu
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44)?
Apa yang Yesus dan Matius maksudkan sebenarnya dengan setiap ini? Kenapa pernyataan umum ini jadi fokus utama pertama setelah pengantar ke amanat ini seperti dicatat oleh Matius? Kenapa ini dijelaskan terperinci dengan contoh-contoh tersebut? Bagaimana setiap paragraf lebih spesifik tersebut memberi arti pada konsep penggenapan hukum dan hidup keagamaan benar melebihi ahli Taurat dan Farisi? Apa implikasi dari semuanya ini?

Hubungan struktural menunjukkan bagaimana penulis menyusun bahan tulisannya, jadi, menunjukkan jalan pikirannya. Dengan menganalisa ini (tanya-jawab) kita tau apa arti atau apa yang penulis maksud mau katakan kepada pembaca semula.

Cari pengertian yang terimplikasi atau tersirat dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan dan terus ajukan pertanyaan dengan sikap kritis.

Bedakan fakta-fakta langsung dari tidak langsung. Perlu kemampuan membaca yang lebih tinggi untuk melihat pernyataan yang tidak langsung. Membayangkan hal-hal dibalik fakta-fakta yang ada sangatlah perlu. Fakta-fakta itu memang sudah cukup jelas dipermukaan (pengamatan awal), akan tetapi diperlukan pemikiran yang mendalam dan imajinatif untuk melihat kebenaran tak langsung, yang tersembunyi dibawah permukaan. Proyeksikan diri kita ke dalam situasi yang digambarkan di dalam teks agar imajinasi kita menjadi aktif untuk membayangkan realitanya lebih dalam.

Pada tahap ini kita berupaya untuk memahami apa yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca pada zamannya. Sasaran penafsiran adalah memperoleh inti berita dari perikop itu. Apakah tema utama perikop ini? Semua tulisan yang baik akan berisi suatu fokus penekanan. Tetaplah berdoa. Roh Kudus pasti menolong kita untuk mengerti dan menemukan kebenaran yang baru.

Analisalah kata-kata dan kalimat-kalimat kunci. Lihat juga perikop yang paralel sebagai pelengkap fakta dan penjelasan. Amati konteks luasnya. Apa yang terjadi sebelum dan sesudah teks yang akan mempengaruhi penafsiran berdasarkan pengamatan yang kita lakukan. Evaluasi dan hubungkan kembali fakta-faktanya. Bandingkan dengan buku-buku tafsiran yang baik jika ditemui hal-hal yang sulit. Tetapi lakukan ini setelah anda melakukan penyelidikan sendiri semaksimalnya.

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menemukan jawabannya adalah jembatan yang menghubungkan apa yang penulis katakan (pengamatan) dan pemahaman apa yang dimaksudnya (penafsiran). Kuasai pertanyaan-pertanyaan standar: “Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Kenapa? Bagaimana?”

Pelajari kumpulan atau perangkat tipe pertanyaan yang perlu ditanyakan (lihat halaman 4 Bab I dan halaman 8 Bab III). Ajukan pada setiap hal penting atau utama yang diamati dalam teks. Beri perhatian pada jenis informasi yang anda mau cari melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan standar paling penting di antaranya adalah yang berikut:
a. Pertanyaan untuk memperoleh definisi: Siapa atau apa ini? Apa arti atau pentingnya ini?
b. Pertanyaan untuk mengetahui alasan: Kenapa ini demikian? Apa maksudnya?
c. Pertanyaan untuk memahami cara: Bagaimana ini dilakukan?
d. Pertanyaan untuk menyelidiki implikasi dan asumsi: Apa yang dimaksudkan dengan ini? Apa yang diasumsi (dimisalkannya)?
e. Pertanyaan lain tentang tempat, dan waktu, dan lainnya jika beralasan.

Tulis pertanyaan-pertanyaan tersebut (dalam daftar lembaran catatan dimaksud di atas) untuk rujukan. Sesuaikan (tulis ulang) pertanyaan standar di atas dengan hal spesifik yang ditelaah. Catat sebanyak mungkin pertanyaan dari sebanyak mungkin sudut pandang (pertama pembaca, kemudian masing-masing tokoh atau kumpulan orang-orang yang terlibat, termasuk Allah, Kristus, dan Roh Kudus) mengenai unit nas telaahan. Dengan menanyakan saja, sudah mempertajam persepsi anda tentang dalamnya dan lebarnya nas telaahan. Jawabannya akan memberi anda pemahaman.

Tangani hal-hal mayor lebih dahulu, rinciannya hanya bila terkait dengan keseluruhannya. Umumnya ini berarti memfokuskan pertanyaan terlebih dahulu pada materi yang sudah tampak dari pengamatan terdahulu sebagaimana tersusun atau terstruktur oleh penulisnya menjadi satu kesatuan yang utuh, yang memberi sumbangan menyeluruh pada makna unit dan penekanan penulisnya sendiri.

Jadi, berarti terlebih dahulu memfokuskan pertanyaan pada struktur. Selidikilah temuan ini memakai “alat kerja” pertanyaan standar. Lalu cari jawabannya semampunya. Ajukan pertanyaan mengenai definisi, sekitar aspek (segi, sisi) utama dari hubungan utama, serta definisi istilah-istilah utama. Dengan dituntun oleh struktur ajukan pertanyaan mengenai alasan, alasan penulis seputar aspek utama hubungan utama, serta penempatannya dalam unit telaahan. Lalu ajukan pertanyaan untuk implikasi, implikasi menyangkut aspek utama. Selesai ini lanjutkan dengan pertanyaan menyangkut tempat, waktu, dan lainnya. Perhatikan urutannya (namun jangan kaku): pertama definisi (siapa, apa), kemudian alasan (kenapa), cara (bagaimana), implikasi (apa), dan pertanyaan-pertanyaan lain (kapan, di mana, dst). Mulailah dengan definisi, pertanyan siapa dan apa.

Temukan jawaban-jawaban:

1. Dalam konteks. Pertanyaan mengenai geografi, sejarah, dan budaya, dan definisi dapat diperoleh dari kamus, peta, dan ensiklopedi Alkitab, tetapi hanya setelah tidak menemukannya dalam konteks. Banyak pertanyaan penting dapat dijawab dengan memuaskan dari konteks dekat, atau konteks lebih luas dari keseluruhan kitab atau nas terkait dalam kitab lainnya. Pakai konkordans untuk menemukan ayat-ayat rujukan atau bandingan silang dan paralel, yang menjadi konteks perikop.

2. Dalam istilah-istilah utama. Hampir selalu pertanyaan definisi akan melibatkan pengenalan dan pemahaman istilah-istilah utama dari unit. Dapat ditemukan dalam kamus dan ensiklopedi Alkitab, dan dalam konkordansi. Tetapi banyak pula arti istilah yang lebih baik diperoleh dari penggunaannya seperti dapat ditemukan dimana-mana dalam Alkitab (metoda penelaahan kata). Periksa istilah Yunani dan Ibrani untuk memastikan bahwa anda menelaah kata tunggal bukan kata-kata berbeda yang diterjemahkan dengan satu kata yang sama. Lihat dalam konkordans.

Periksa-uji jawaban-jawaban anda:

1. Bentuk dan arti kata. Jawaban yang layak harus sesuai dengan bentuk dan arti yang diamati (berdasar etimologi dan terutama pemakaiannya) dari kata atau ekspresi dalam konteksnya. Misalnya arti dan penggunaan kata “diselamatkan” dalam Efesus 2:8
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Eph 2:8),
(sekarang sudah selamat, present tense) dibandingkan dengan 1 Korintus 1:18
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18)
(proses keselamatan) dan Roma 8:18-25
“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8:18-25)
(penggenapan karya penyelamatan Allah yang akan datang), bahwa dalam Efesus Paulus menyatakan bahwa keselamatan itu sudah terlaksana sekarang karena kasih karunia semata; penggunaannya dalam konteks Efesus 2 di sini juga konsisten dengan di tempat lain.

2. Konteks. Penafsiran suatu teks harus sesuai dengan alur pemikiran dalam konteks. Perhatikan 1 Korintus 2:9,
“Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor 2:9)
sebagaimana dapat diikuti dari alur pikiran dalam konteksnya, yaitu ayat 1-5, 6-7, 8, 10, dan 2:11-3:4,
“Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.  Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1Kor 2:1-5),
“Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan  Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1Kor 2:6-7).
“Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1Kor 2:8),
“Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1Kor 2:10),
“Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.  Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:11-16),
“Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?  Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?” (1Kor 2:11-3:4)
jelas bahwa pengutipan Yesaya 64:4
“Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian” (Yes 64:4).
dalam hal ini oleh Paulus bukan hendak bicara tentang apa yang tidak kita ketahui, tetapi sebaliknya menegaskan apa yang kita ketahui, yaitu seperti diberitahukan oleh Roh Kudus; jika dari kita sendiri tanpa pertolongan Roh Kudus tak akan mampu menangkap hikmat Allah.

3. Maksud penulis. Makna suatu nas harus sesuai dengan maksud penulis, sejauh dapat ditentukan. Dalam 1 Yohanes 3:16-17
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh 3:16-17)
Yohanes mengajarkan kasih di antara sesama orang percaya. Tetapi jika dalam menafsir membatasinya hanya di antara sesama masyarakat Kristen saja akan sangat keliru, tidak sesuai dengan roh tulisan Yohanes lainnya dalam kitab yang sama, 
“Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh 2:2).
dan
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:10, 19).
Bahkan pada awal tulisannya dalam ayat 2:1
“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1Yoh 2:1).
dinyatakan supaya jangan berbuat dosa.

4. Lingkungan sejarah. Lingkungan budaya para penulis berbeda nyata dari kita. Arti suatu nas harus cocok dengan lingkungan sejarahnya.

5. Kearifan rohaniah. Kemampuan untuk membedakan kebenaran dalam penafsiran, yang melampaui data dan bukti tentang intuisi yang lahir dari Roh Allah.

6. Akal sehat. Berpegang pada arti jelas suatu teks dan menolak arti tersembunyi atau tersamar. Perkataan Yesus tentang “biji sesawi” dalam
“Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi” (Mar 4:31)
jangan ditafsirkan terlalu jauh secara teknis berlebihan berdasarkan ilmu biologi atau botani misalnya; hasilnya akan ngawur keterlaluan.
7. Pengalaman. Harus serasi dengan hidup seperti yang kita alami. Pernyataan Yesus dalam 
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 5:7)
jangan ditafsirkan sebagai janji tanpa syarat bagi jawaban positif atas doa. Dari pengalaman Yohanes sendiri dan para rasul dan tokoh-tokoh gereja dapat ditarik kesimpulan bahwa syaratnya adalah implisit.
IMS 100913